Ajoeba Wartabone Layak Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

_Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)_

Makassar, NusantaraInsight — Pemikiran serta sikap sebagai republikein tulen dan seorang nasionalis sejati merupakan dasar Ajoeba Wartabone layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Ketegasan, konsistensi, dan integritasnya tergambarkan lewat pernyataan: “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja.”

Simpulan dan rekomendasi untuk mengajukan Ajoeba Wartabone sebagai Pahlawan Nasional dicetuskan dalam acara Bedah Buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia Bersatu, karya Basri Amin (2025), di Hotel Aryaduta, Makassar, Selasa, 16 Juni 2026.

Hadir sebagai pembicara, yakni Dr Mukhlis PaEni, Ketua Dewan Pakar Memory of the World (MOW) Indonesia-UNESCO, Prof. Dr. Jumadi, S.Pd., M.Pd., Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulawesi Selatan, Dr. Andi Suriadi Mappangara, M.Hum., penulis sejarah dan dosen FIB Unhas, serta Eddy Thamrin, sastrawan dan budayawan.

Pernyataan “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” yang disampaikan Ajoeba Wartabone dalam rapat di Parlemen Negera Indonesia Timur (NIT), menurut Dr. Mukhlis PaEni, punya sejumlah implikasi. Bukan saja sebagai tonggak mengajak kembali ke Republik Indonesia (NKRI), tetapi juga dalam hal penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, terutama dalam forum resmi.

BACA JUGA:  Liga I BRI: Gol “Off Side” Gagalkan PSM Menang

Pasalanya, era itu, kata Mukhlis PaEni, kecenderungan tokoh-tokoh dan elite politik berbicara dalam bahasa Belanda menunjukkan bahwa mereka orang terpelajar dan intelek. Namun, sejak teriakan lantang “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” disuarakan, frekuensi penggunaan bahasa Belanda dalam forum parlemen berkurang.

“Ada benang merah yang tersurat dari pemikiran-pemikiran, sikap, dan tindakan Ajoeba Wartabone sejak tahun 1920an, lalu menjadi anggota Parlemen NIT, kemudian sebagai Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado, yakni jiwa nasionalismenya,” papar Mukhlis PaEni, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Arsip Nasional RI.

Prof. Dr. Jumadi, S.Pd., M.Pd., juga punya telaah yang sama. Guru Besar UNM itu mengkaji artikel yang ditulis Ajoeba dan pernyataannya yang dikemukakan sebagai politisi dan anggota Parlemen NIT, sebagaimana dikutip media massa dan jadi arsip sejarah. Apa yang dilakukan Ajoeba Wartabone, jelas Prof. Jumadi, merupakan panggilan nasionalisme dan upaya pencerdasan bangsa.

“Ajoeba Wartabone merupakan sosok intelektual yang visioner, seorang jurnalis pejuang, dan memiliki kepeloporan dalam jurnalisme kebangsaan,” terang Prof. Jumadi.