“Buku Ajoeba Wartabone ini menegaskan pentingnya menulis sejarah, apalagi pernyataan sang tokoh kemudian ikut mempengaruhi jalannya sejarah Indonesia,” imbuh Andi Suriadi Mappangara.
Delegasi Goodwill Missie Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT), diakui, melakukan lawatan ke Yogyakarta yang kala itu menjadi ibu kota Republik Indonesia, punya keterkaitan erat dengan pernyataan Ajoeba Wartabone: Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja.
Dr Amanda Katili Niode, yang hadir sebagai penyelia buku, mengungkapkan bahwa buku Ajoeba Wartabone ini lahir melalui serangkaian riset akademik. Berbagai arsip dan dokumentasi ditelisik agar dapat mengetahui dan memahami kiprah dan kontribusi Ajoeba Wartabone, bukan saja bagi daerahnya, Gorontalo, tetapi juga bagi Indonesia.
“Buku ini dipersiapkan cukup lama, sebagai bukti bakti dan cinta keluarga besar kepada sosok teladan Ajoeba Wartabone,” kata Amanda Katili, yang dikenal luas sebagai pembicara, penulis, dan aktivis, terutama terkait lingkungan, isu perubahan iklim, dan pembangunan berkekanjutan itu.
Bukti-bukti akan peran penting Ajoeba Wartabone dapat ditelusuri pada berbagai arsip sejarah, antara lain berupa foto-foto, artikel dan berita koran.
Dalam buku karya Basri Amin, peneliti pada Pusat Studi HB Jassin, rupanya juga banyak pemikiran Ajoeba Wartabone yang tetap kontekstual hingga kini. Salah satunya soal faham sosialisme dan semangat kerakyatan, sebagaimana tercetus dalam ungkapan “100 persen ikut Sutan Syahrir”.
Sutan Syahrir merupakan tokoh sosialisme demokratis, pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia pernah tiga kali menjadi Perdana Menteri Indonesia, masing-masing, pada Kabinet Syahrir I (November 1945-Maret 1946), Kabinet Syahrir II (Maret 1946-Oktober 1946), dan Kabinet Syahrir III (Oktober 1946-Juni 1947).
Prof. Dr. Ir. H. Fadel Muhammad, Ketua Umum LAMAHU, yang juga merupakan politikus, pengusaha, dan akademisi Indonesia, ketika tampil sebagai keynote speaker membahas perlunya membumikan gagasan dan pemikiran Ajoeba Wartabone terkait faham kerakyatan ini. Menurutnya, apa yang jadi kebijakan pemerintahaan Presiden Prabowo Subianto, punya irisan semangat dengan cita-cita pembangunan yang dikemukakan Ajoeba Wartabone semasa hidupnya.
Dari bahasan para pembicara dapat dikatakan bahwa Ajoeba Wartabone layak diajukan sebagai Pahlawan Nasional. Menurut KBBI, kata “layak” berarti wajar; pantas; patut. Kata ini juga diartikan sebagi mulia; terhormat.
Secara semiotik, kata “layak” bermakna sebagai tanda nilai sosial. Kata “layak” ini berfungsi sebagai signifier yang menunjuk pada signified berupa nilai kepahlawanan yang punya legitimasi sosial dan tervalidasi dalam dokumen negara. Artinya, tokoh Ajoeba Wartabone pantas dijadikan ikon pemersatu dan identitas nasional.
Sementara secara filosofis kata “layak punya makna sebagai keadilan distributif dan pengakuan. Layak dalam kaitan ini, mesti memenuhi standar etis dan historis untuk dijadikan sebagai teladan moral-politik bangsa. (*)










