Ditambahkan, ucapan “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” merupakan pernyataan simbolik, sekaligus menjadi simpul persatuan Indonesia. Ajoeba Wartabone berikut pernyataannya yang monumental menjadi bagian penting dari historiografi revolusi Indonesia.
Eddy Thamrin, yang lebih dikenal dengan nama pena Yudhistira Sukatanya, menilai keberadaan NIT di mana Ajoeba Wartabone, berkiprah di situ sebagai politisi dan anggota parlemen, tak lepas dari posisi Makassar sebagai melting point. Kota yang sudah bertumbuh dan punya nama sejak berabad-abad lampau ini, menjadi titik di mana berbagai bangsa, budaya, etnis, dan ide-ide berbeda bertemu dan menjadi entitas baru.
“Sayangnya berbagai bangunan bersejarah, yang bisa menghadirkan lebih valid tentang lokasi-lokasi penting di masa kolonial dan revolusi tidak lagi berjejak,” ujar editor buku Makassar Doeloe Makassar Kini Makassar Nanti (2000) itu menyayangkan.
Meski mengapresiasi buku Ajoeba Wartabone, tetapi Dr. Andi Suriadi Mappangara memberikan catatan kritis berupa kurangnya penulis mengelaborasi situasi dan suasana Makassar di masa NIT. Kota yang begitu dinamis secara politik, yang perlu ditulis pula sebagai latar, dengan penulisan secara kronologis agar lebih mudah dipahami.
“Buku Ajoeba Wartabone ini menegaskan pentingnya menulis sejarah, apalagi pernyataan sang tokoh kemudian ikut mempengaruhi jalannya sejarah Indonesia,” imbuh Andi Suriadi Mappangara.
Delegasi Goodwill Missie Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT), diakui, melakukan lawatan ke Yogyakarta yang kala itu menjadi ibu kota Republik Indonesia, punya keterkaitan erat dengan pernyataan Ajoeba Wartabone: Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja.
Dr Amanda Katili Niode, yang hadir sebagai penyelia buku, mengungkapkan bahwa buku Ajoeba Wartabone ini lahir melalui serangkaian riset akademik. Berbagai arsip dan dokumentasi ditelisik agar dapat mengetahui dan memahami kiprah dan kontribusi Ajoeba Wartabone, bukan saja bagi daerahnya, Gorontalo, tetapi juga bagi Indonesia.
“Buku ini dipersiapkan cukup lama, sebagai bukti bakti dan cinta keluarga besar kepada sosok teladan Ajoeba Wartabone,” kata Amanda Katili, yang dikenal luas sebagai pembicara, penulis, dan aktivis, terutama terkait lingkungan, isu perubahan iklim, dan pembangunan berkekanjutan itu.
Bukti-bukti akan peran penting Ajoeba Wartabone dapat ditelusuri pada berbagai arsip sejarah, antara lain berupa foto-foto, artikel dan berita koran.
Dalam buku karya Basri Amin, peneliti pada Pusat Studi HB Jassin, rupanya juga banyak pemikiran Ajoeba Wartabone yang tetap kontekstual hingga kini. Salah satunya soal faham sosialisme dan semangat kerakyatan, sebagaimana tercetus dalam ungkapan “100 persen ikut Sutan Syahrir”.











