Kenangan pada Kassi-Kassi Era Akhir 80an hingga Awal 90an

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Penggiat Literasi, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

Makassar, NusantaraInsight — Suatu sore di Jalan Letjen Hertasning. Seperti pulang kampung. Tahun 1987, untuk pertama kali ke Makassar, saya langsung ke sini. Kampung halaman mama. Kassi-kassi, namanya. Nama ini kini jadi kelurahan: Kelurahan Kassi-kassi. Hanya berjarak + 6 km dari Lapangan Karebosi, 0 km-nya Makassar.

Dahulu, hanya nama kampung. Kelurahannya, masih Rappocini. Ciri kampung Kassi-Kassi, ketika itu, adalah pohon mangga yang menyebar. Bahkan satu pohon mangga besar tepat menaungi rumah kami.

Bila angin kencang, apalagi hari hujan, ranting-rantingnya jatuh. Mengejutkan. Mama kerap kali ‘mengungsi’, sebab tak mau dibikin kaget oleh dentam suara patahan ranting yang jatuh.

*Monumen Emmy Saelan sebagai Cirinya*

Ciri lain, Monumen Emmy Saelan, tugu peringatan gugurnya perempuan pahlawan, yang punya kisah heroik. Lokasi TKP-nya sebenarnya tidak persis di tempatnya sekarang.

Menurut cerita mama, Emmy Saelan melakukan tindakan heroik itu di sekitar belakang SMP Negeri 13, yang berada di Jalan Tamalate VI.

BACA JUGA:  Regulasi Hubungan NU - PKB

Letak Monumen Emmy Saelan persis di sebelah jalan Kantor Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Makassar. Di belakang monumen terdapat SMA Karya, dan perkampungan warga yang tembus ke Jalan Toddopuli I. Sayang, posisi monumen penting itu, kini terjepit, terhalang pandang oleh bangunan-bangunan di depannya.

Makanya, saat kami audiensi dengan Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balai Kota Makassar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Senin, 3 November 2025, saya gembira, begitu mendengar bahwa Monumen Emmy Saelan akan direnovasi atau direvitalisasi.

Appi, begitu sapaan akrab Pak Wali, mau monumen pahlawan perempuan itu jadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat, terutama pelajar dan Gen Z. Appi mengemukakan niatnya itu ketika menerima sejumlah seniman dan budayawan yang tergabung dalam Makassar Art Forum (MAF).

Hadir saat itu, antara lain Asmin Amin, Dr. Asia Ramli Prapanca, Irwan AR, Andri Prakarsa, Djamal April Kalam, Kasmuddin “Ale Deep”, dan Arbiansyah. Kami didampingi A. Makmur Burhanuddin, Ketua Fraksi PKB, DPRD Kota Makassar.

BACA JUGA:  Ķetua DPRD Makassar Dilantik, Supratman : Titip Doa, Semoga Bisa Laksanakan Amanah ini

Patut diakui, kondisi Monumen Emmy Saelan sangat jauh berbeda dengan dahulu, ketika akses jalan ke situ luas. Tak banyak bangunan yang mengganggu pandangan. Hanya ada 2 rumah di sekitar situ. Satu milik Daeng Tarring, yang berada agak jauh di depan, satunya lagi milik Daeng Ugi, yang posisinya hanya sekira 1,5 meter dari tembok pagar monumen.

Memang, di kampung Kassi-Kassi masa itu belum banyak rumah tinggal. Tetangga kami, hanya Tante Hasna, Daeng Siang, dan Daeng Caya. Sedikit berbelok, ada Mama Ronald, yang suaminya pegawai PLN, dan Mama Laura, yang suaminya pelaut.

Ujung Jalan Letjen Hertasning dahulu masih ‘jalan buntu’, belum terhubung dengan Jalan Aroepala. Di ujung jalan itulah ada pekuburan keluarga, yang sempat jadi “penghalang” pembebasan lahan untuk jalan tembus seperti saat ini.

*Mesti Berjalan Jauh*

Lagi-lagi, dahulu–sampai pertengahan tahun 90an–sulit sekali mencari warung di daerah
ini, jika kita pengen makan di luar rumah. Pilihannya tak banyak. Itupun harus berjalan kaki cukup jauh.

BACA JUGA:  Haji yang Terstruktur

Kita mesti ke taman bunga yang
berada tepat di pannyingkul Lapangan Tamalate, depan kantor PLN. Ini lapangan sepakbola, yang dimanfaatkan untuk sholad Ied, ketika Idulfitri dan Iduladha.

Namanya taman bunga, tetapi jangan harap
melihat bunga. Mungkin karena kambing-kambing sering mangkal di sana. Maka dipelesetkanlah tempat itu jadi taman kambing oleh warga.