Hadiah Ulang Tahun: Sebuah Kritik untuk Appi di Usia 51 Tahun

Keterangan foto : Diskusi Transfortasi di Kota Makassar bersama Prof. Lambang Basri, Ir Rahman Iskandar dan Penulis
Keterangan foto : Diskusi Transfortasi di Kota Makassar bersama Prof. Lambang Basri, Ir Rahman Iskandar dan Penulis

Oleh: Aslam Katutu

Makassar, NusantaraInsight — Ada hadiah yang dibungkus dengan kertas indah. Ada pula hadiah yang tidak membutuhkan pita, tetapi mungkin jauh lebih berguna bagi seorang pemimpin: kritik yang jujur.

Saya memilih hadiah yang kedua.

Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat saya, Munafri Arifuddin—Appi, Wali Kota Makassar. Bukan karena saya tidak menghargainya, justru karena saya mengenalnya cukup lama.

Saya mengenal Appi jauh sebelum ia menjadi Wali Kota Makassar. Saat itu ia masih bujangan. Kami pernah berada dalam lingkaran pergaulan yang sama dan memiliki kegemaran yang kurang lebih sama: dunia anak motor dan juga ikut dalam kegiatan otomotif Rally di Takalar bersama komunitas anak muda Bloedus – Solihan Kalla, Sadikin Aksa dll.

Perjalanan hidup kemudian membawa kami ke jalan masing-masing. Appi menikah dengan Melinda Aksa, putri pengusaha nasional Aksa Mahmud. Sementara saya menjalani perjalanan saya sendiri sebagai bagian dari keluarga besar Bosowa Group ditugasi menjaga kawang perusahaan tol Bosowa.

Hubungan itu membuat saya melihat perjalanan Appi bukan hanya dari kejauhan. Saya menyaksikan bagaimana seorang anak muda yang dahulu saya kenal dalam dunia pergaulan, kemudian masuk ke dunia politik dan tiga kali mengikuti kontestasi Pilkada Makassar.

BACA JUGA:  MEMBINCANGKAN [LAGI] KEKUASAAN

Pada Pilkada 2024, perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ditetapkan sebagai pasangan terpilih untuk memimpin Makassar periode 2024–2029 dan kemudian dilantik pada 20 Februari 2025.

Saya sendiri ikut mengambil bagian dalam perjuangan itu.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari keluarga besar Bosowa Group, hati nurani saya terpanggil untuk ikut berjuang memenangkan pasangan yang kemudian dikenal dengan pasangan MULIA. Bagi saya, dukungan itu bukan semata-mata karena hubungan pertemanan, ikatan hati dengan owner Bosowwa tetapi juga karena ada harapan bahwa Makassar akan mendapatkan pemimpin yang mampu membawa kota ini bergerak lebih jauh, membawa perubahan.

Karena itu, setelah seseorang yang kita dukung memperoleh amanah, tugas kita sebenarnya belum selesai.

Justru di situlah tugas berikutnya dimulai: mengawal, mengingatkan, dan berani menyampaikan kritik.

Saya percaya, orang yang hanya datang membawa pujian belum tentu sedang mencintai seorang pemimpin.

Kadang-kadang orang yang benar-benar mencintai justru datang membawa kalimat yang tidak enak didengar.

BACA JUGA:  Ajoeba Wartabone dan Jurnalisme Kebangsaan di Masa Revolusi Indonesia

Satu kritik yang membangun jauh lebih berharga daripada seribu pujian yang membuat seorang pemimpin merasa semuanya sudah baik-baik saja.