Makassar tidak membutuhkan seorang wali kota yang hanya dikelilingi orang-orang yang mengatakan, “Sudah bagus, Pak. Mantap Pak”
Makassar membutuhkan orang-orang yang berani berkata:
“Pak Appi, bagian ini perlu diperbaiki.”
“Pak Wali, kebijakan ini perlu dievaluasi.”
“Pak Wali, rakyat melihat persoalan ini berbeda.”
Dan yang paling penting:
“Pak Wali, jangan sampai jabatan membuat kita berhenti mendengar.”
Di sinilah saya teringat pada pemikiran Anies Rasyid Baswedan tentang perbedaan antara pemimpin dan pejabat. Jabatan memberikan seseorang otoritas. Tetapi otoritas belum otomatis menjadikan seseorang pemimpin.
Seorang pejabat memiliki kewenangan karena jabatannya.
Seorang pemimpin mendapatkan kepercayaan karena sikap, keteladanan, keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan mendengar dan kesediaannya menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan dirinya sendiri.
Karena itu, menjadi Wali Kota Makassar bukan sekadar memiliki kewenangan menandatangani keputusan, mengangkat pejabat, mengatur anggaran, atau menentukan arah birokrasi.
Menjadi Wali Kota berarti memikul amanah jutaan harapan warga.
Di sinilah ukuran kepemimpinan sesungguhnya akan diuji.
Apakah kekuasaan digunakan untuk memperbesar jarak dengan rakyat, atau justru memperpendek jarak dengan mereka?
Apakah kritik dianggap sebagai gangguan, atau sebagai alarm agar pemerintah tidak kehilangan arah?
Apakah pejabat di sekitar pemimpin hanya menjadi penyampai kabar baik, atau berani menyampaikan kenyataan yang sebenarnya?
Saya menulis ini bukan sebagai lawan politik Appi.
Saya juga tidak sedang mencari kesalahan Appi.
Saya menulis sebagai seorang kawan lama, sebagai orang yang pernah ikut berjuang, dan sebagai warga Makassar yang tentu ingin melihat kota ini menjadi lebih baik.
Sebab setelah kemenangan Pilkada, hubungan antara pendukung dan pemimpin seharusnya tidak berubah menjadi hubungan antara pemuji dan yang dipuji.
Yang diperlukan adalah hubungan antara rakyat dan pemegang amanah.
Saya ingin Appi bukan hanya dikenang sebagai orang yang akhirnya berhasil memenangkan Pilkada setelah tiga kali bertarung.
Lebih dari itu, saya ingin ia dikenang sebagai wali kota yang mampu membuktikan bahwa kemenangan dalam Pilkada hanyalah pintu masuk menuju ujian kepemimpinan yang sebenarnya.
Pilkada selesai ketika suara sudah dihitung.
Tetapi kepemimpinan baru benar-benar dimulai setelah suara itu berubah menjadi amanah.
Dan karena itulah, saya memilih memberikan hadiah yang mungkin tidak selalu nyaman:
sebuah kritik.
Bukan kritik untuk menjatuhkan.












