Ishakim, Kompeni Tak Menjajah

Makassar, NusantaraInsight — Di balik sukses penyelenggaraan Festival Sastra Kepulauan IX 2026 di Benteng Somba Opu, pada 18-20 September 2026, ada sosok yang sangat “beda” yang berhasil memandu Dialog Sastra.

Sosok itu adalah Ishakim atau Kak Is akrabnya biasa disapa. Beliau seorang seniman multidisipliner, mulai dari seni rupa, seni peran, penata artistik, aktor teater dan film, penari, penyair, cerpenis, serta pengajar seni, sastra bahkan mistis-pun diketahuinya.

Lelaki kelahiran Ujung Pandang ini telah menekuni seni rupa sejak 1976 di Sanggar Benteng Ujung Pandang di bawah bimbingan Drs. Bachtiar Hafid.

Walaupun ketika beliau masih muda, Kas Is bahkan pernah sepanggung bersama para Maestro Seni Sulsel seperti Rahman Arge, Husni Djamaluddin, Arsal Alhabsy, Udhin Palisuri maupun Aspar Paturusi.

Dirinya yang cukup “beda” (menurut beliau) sehingga mudah dikenali dan dari “beda” itulah, Kak Is dipanggil Kompeni (Kompeni artinya persekutuan dagang Belanda (VOC), pemerintah kolonial Belanda, atau serdadu Belanda pada masa penjajahan di Nusantara)

Dengan gelaran Kompeni itulah Kak Is malang melintang di dunia seni, khususnya di Sulawesi Selatan. Setiap peran seni yang ditawarkan kepadanya tak pernah terlewatkan.

BACA JUGA:  Menjadi Kreatif dengan Menulis

Lelaki yang juga digelari Si Musang Berjanggut ini, selain ahli bermain peran. Beliau juga sangat piawai dalam setiap diskusi sastra.

Bahkan setiap argumen yang disampaikan itu, sangat mengena dan masukannya sangat tepat dan tanpa tendensi apapun.

Namun dalam argumen yang dikeluarkan terkadang sedikit aneh, karena ketika diminta untuk rewind kembali pernyataannya tadi. Beliau berkata: “saya juga sudah lupa, apa yang tadi saya bicara.”

Pada suatu diskusi, Kak Is mengeluarkan petuah bagi para sastrawan yang akan membawa ke dunia industri atau kearah yang lebih profesional.

“Umumnya kita itu, ada penyakit yang sangat susah hilang, penyakit itu disebut siri ati (iri hati) yaitu susah melihat orang senang, senang melihat orang susah,” pesannya kala itu.

Kompeni Tak Menjajah

Kak Is yang sejak tahun 1979 terlibat dalam program bina gambar TVRI Ujung Pandang ini, pernah menempuh pendidikan Seni Rupa Murni di IKJ-LPKJ (Angkatan 1983) Jakarta.

Selain melukis, ia aktif sebagai pematung, penata artistik, aktor teater dan film, penari, penyair, cerpenis, serta pengajar seni.

BACA JUGA:  Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (3) Dari Staf ke Posisi Puncak

Sebagai pengajar seni, beliau tidak pernah mendikte apalagi menjajah para siswa yang menuntut ilmu kepadanya. Walaupun gelaran Kompeni sangat lekat dirinya.

Untuk para pemula yang berkecimpung di dunia sastra ataupun seni, Kak Is selalu memberikan masukan bagaimana tetap menjadi karang di tengah derasnya ombak.