News  

Dari Asesmen Menuju Transformasi, Dr. Syarifuddin Ajak Guru Hadirkan Pembelajaran Bermakna

Makassar, NusantaraInsight — Seorang guru sejatinya tidak pernah berhenti belajar. Setiap anak yang hadir di ruang pembelajaran membawa cerita, karakter dan potensi yang berbeda. Karena itu, tugas guru bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi menemani setiap anak menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya.

Pesan mendalam itulah yang ditekankan Dr. Syarifuddin, M.Pd., dari Dinas Pendidikan Kota Makassar, dalam kegiatan Asesmen Kinerja Pembelajaran Guru PAUD dan Dikmas di Hotel Condotel Primer Makassar, 17–18 September 2026.

Bagi Dr. Syarifuddin, asesmen kinerja bukanlah instrumen untuk menghakimi guru. Asesmen justru harus menjadi cermin untuk berefleksi, ruang untuk belajar dan energi untuk memperbaiki diri.

“Guru yang baik bukan hanya mereka yang mampu menyampaikan pembelajaran, tetapi juga mereka yang mau terus belajar, melakukan refleksi, menerima masukan dan berani memperbaiki praktik pembelajarannya,” ujar Dr. Syarifuddin.

Menurutnya, setiap proses asesmen seharusnya menghadirkan kesadaran baru bagi seorang pendidik. Ketika guru mengetahui kekuatan dan kekurangannya, di situlah sesungguhnya proses pertumbuhan profesional dimulai.

Ia mengajak guru PAUD dan Dikmas mengubah cara pandang terhadap asesmen. Jangan sampai asesmen dipahami sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat kembali proses pembelajaran dan menentukan langkah perbaikan.

BACA JUGA:  ALFI Sulselbar Dorong Penguatan Keselamatan Berlalu Lintas dan Kepastian Hukum bagi Pelaku Usaha Jasa Logistik

“Jangan takut pada asesmen. Jadikan asesmen sebagai cermin. Dari sana kita melihat apa yang sudah baik dan apa yang masih harus diperbaiki,” katanya.

Dr. Syarifuddin menjelaskan, merujuk Kepmendikdasmen Nomor 271 Tahun 2025, asesmen kinerja pembelajaran guru PAUD dan Dikmas dilaksanakan melalui platform Ruang GTK yang terintegrasi dengan PMM dan e-Kinerja BKN.

Konsep tersebut mengedepankan prinsip 3M: Mudah, Bermakna dan Bermutu. Pelaksanaan asesmen dilakukan satu kali dalam setahun melalui siklus Januari hingga Desember 2026 serta tidak mewajibkan guru mengunggah dokumen fisik administrasi.

Menurutnya, penyederhanaan tersebut harus dimaknai sebagai kesempatan untuk mengembalikan energi guru kepada tugas utama: mendidik, mendampingi dan menumbuhkan anak.

“Yang paling penting bukan seberapa banyak dokumen yang kita miliki, tetapi seberapa bermakna pembelajaran yang kita hadirkan dan seberapa besar dampaknya terhadap perkembangan anak,” tegasnya.

Dalam dashboard penilaian, terdapat lima aspek utama yang menjadi perhatian, yakni penataan lingkungan main; pijakan dan interaksi guru; pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan; capaian pembelajaran sesuai fase usia dan perkembangan anak; serta asesmen autentik.