News  

Dari Asesmen Menuju Transformasi, Dr. Syarifuddin Ajak Guru Hadirkan Pembelajaran Bermakna

Ia mengingatkan bahwa pembelajaran PAUD harus memberikan pengalaman yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan. Anak tidak boleh kehilangan kegembiraan dalam belajar hanya karena proses pendidikan terlalu berorientasi pada hasil.

Setiap aktivitas pembelajaran, lanjutnya, harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Dengan demikian, proses belajar dapat berlangsung secara alami sekaligus memberikan pengalaman positif yang membekas dalam diri peserta didik.

Dalam asesmen, prinsip berkeadilan, objektif dan edukatif juga harus menjadi pijakan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan data dan fakta, memberikan kesempatan yang adil kepada setiap anak untuk berkembang, serta menghasilkan umpan balik yang mendorong perbaikan.

Dr. Syarifuddin juga menekankan pentingnya asesmen autentik. Perkembangan anak tidak cukup dilihat dari satu hasil akhir, tetapi harus diamati melalui proses keseharian, antara lain melalui catatan anekdot, ceklis indikator perkembangan, hasil karya dan foto berseri.

“Setiap anak memiliki keunikan. Jangan membandingkan anak yang satu dengan anak lainnya. Tugas kita adalah membantu setiap anak menemukan potensi terbaiknya,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar guru membangun budaya refleksi. Setiap selesai melaksanakan pembelajaran, guru perlu berani bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang sudah baik? Apa yang belum maksimal? Dan apa yang bisa saya lakukan agar pembelajaran berikutnya lebih baik?

BACA JUGA:  SMANSA Football Community Ramaikan Turnamen RSC International Soccer 7'S Kuala Lumpur Malaysia

Menurut Dr. Syarifuddin, pertanyaan sederhana tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan seorang guru menuju profesionalitas. Sebab, guru yang mau berefleksi akan memiliki peluang lebih besar untuk terus berkembang.

Ia percaya, perubahan besar dalam dunia pendidikan sering kali dimulai dari langkah kecil seorang guru di ruang pembelajaran. Dari cara guru menyambut anak, mendengarkan pertanyaan mereka, memberikan kesempatan untuk mencoba, hingga memberikan apresiasi atas setiap proses yang mereka jalani.

“Ketika guru terus bertumbuh, pembelajaran akan semakin berkualitas. Ketika pembelajaran semakin bermakna, anak-anak akan memiliki ruang yang lebih luas untuk tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, kreatif, mandiri, berkarakter dan siap menghadapi masa depan,” pungkasnya.

Pada akhirnya, asesmen bukanlah garis akhir perjalanan seorang guru. Asesmen adalah titik jeda untuk melihat kembali perjalanan, menemukan kekuatan, memperbaiki kekurangan dan melangkah lebih jauh.

Sebab, di balik setiap angka dan hasil penilaian, ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, belajar dan menjadi versi terbaik dari dirinya.

BACA JUGA:  Tunas Subur Abadi Berbagi Berkah Bersama Anak Panti

Dan di sanalah makna sejati profesionalitas guru menemukan tempatnya,: terus belajar, terus berefleksi, terus berinovasi dan tidak pernah berhenti bertumbuh, demi anak-anak dan masa depan bangsa. (*Rz)