Dr. Syarifuddin menaruh perhatian besar pada lingkungan belajar anak. Baginya, ruang belajar bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan, tetapi juga ruang tempat rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian, kemandirian dan karakter anak mulai tumbuh.
Karena itu, lingkungan main harus aman, nyaman, menarik dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Guru dituntut mampu menciptakan suasana yang membuat anak merasa dihargai, didengar dan memiliki keberanian untuk mengeksplorasi dunia di sekitarnya.
Tidak kalah penting, katanya, adalah kualitas interaksi antara guru dan anak. Guru bukan hanya berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi, tetapi hadir sebagai pendamping, fasilitator dan teladan.
“Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari bagaimana kita bersikap, bagaimana kita mendengarkan dan bagaimana kita memperlakukan mereka,” tutur Dr. Syarifuddin.
Ia mengingatkan bahwa pembelajaran PAUD harus memberikan pengalaman yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan. Anak tidak boleh kehilangan kegembiraan dalam belajar hanya karena proses pendidikan terlalu berorientasi pada hasil.
Setiap aktivitas pembelajaran, lanjutnya, harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Dengan demikian, proses belajar dapat berlangsung secara alami sekaligus memberikan pengalaman positif yang membekas dalam diri peserta didik.
Dalam asesmen, prinsip berkeadilan, objektif dan edukatif juga harus menjadi pijakan. Penilaian harus dilakukan berdasarkan data dan fakta, memberikan kesempatan yang adil kepada setiap anak untuk berkembang, serta menghasilkan umpan balik yang mendorong perbaikan.
Dr. Syarifuddin juga menekankan pentingnya asesmen autentik. Perkembangan anak tidak cukup dilihat dari satu hasil akhir, tetapi harus diamati melalui proses keseharian, antara lain melalui catatan anekdot, ceklis indikator perkembangan, hasil karya dan foto berseri.
“Setiap anak memiliki keunikan. Jangan membandingkan anak yang satu dengan anak lainnya. Tugas kita adalah membantu setiap anak menemukan potensi terbaiknya,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar guru membangun budaya refleksi. Setiap selesai melaksanakan pembelajaran, guru perlu berani bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang sudah baik? Apa yang belum maksimal? Dan apa yang bisa saya lakukan agar pembelajaran berikutnya lebih baik?
Menurut Dr. Syarifuddin, pertanyaan sederhana tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan seorang guru menuju profesionalitas. Sebab, guru yang mau berefleksi akan memiliki peluang lebih besar untuk terus berkembang.












