Makassar, NusantaraInsight — Tak seperti biasanya, pagi itu saya bangun telat karena semalaman begadang hingga pukul 04.00 dinihari membicarakan tentang agenda keluarga di bulan November 2026. Saat hendak memulai aktivitas membuka gadget untuk memeriksa pekerjaan yang tertunda, tiba-tiba masuk chat dari Dr Asia Ramli Prapanca (begitu yang tertulis di HP Book) bunyinya: “Hari ini, Kamis, 17 September 2026 Pukul 15.00 Rapat Pemantapan Festival Sastra Kepulauan IX di Baruga Benteng Somba Opu. Membahas persiapan setiap bidang. Harap hadir.”
“Siap” jawabku singkat bak tentara mendapatkan perintah.
“Masih lama ji” gumamku, “masih sempat ji ngopi-ngopi di Om Ben,” pikirku lagi.
Setelah melalui drama dari pagi hingga pukul 16.00 WITA, saya kemudian menuju ke Benteng Somba Opu, walaupun saya sudah telat 1 jam, saya yakin belum terlambat, mengingat agenda rapat sebelumnya yang selalu molor.
Ketika tiba, di kejauhan saya melihat Kak Ram (Asia Ramli) berjalan dengan seseorang menuju warung di sisi barat Baruga Somba Opu. Saya pun mengikuti dan memberi salam.
“Assalamualaikum'” kataku
“Walaikumsalam,” kompak keduanya menjawab.
“Sini Awing,” ucap Kak Ram,
“Ini Wartawan yang meliput kita,” jelas Kak Ram yang tanpa diperkenalkan saya sudah tahu namanya Chaeruddin Hakim dari beberapa flayer Festival Sastra Kepulauan yang dikirimkan kepadaku.
Tak lama kemudian tiga gelas kopi hitam datang dari ibu pemilik warung.
“Tambah satu, Bu,” kata Chaeruddin Hakim yang kemudian lebih akrab saya sapa Om Chaer.
Karena ternyata segelas kopi yang saya “serobot” itu milik anakda dari Om Chaer yang turut hadir menemaninya.
Baru saja menyeruput kopi, Kak Ram mendapat aba-aba dari Baruga bahwa rapat akan segera dimulai. Kami bertiga kemudian membawa kopi hitam ke Baruga untuk menemani kami rapat pemantapan.
Om Chaer Menyiapkan Ambulans
Dalam rapat yang dipimpin oleh Kak Ram sejumlah bidang di”absen” satu persatu. Taslim selaku sekretaris panitia mencatat setiap arahan dari Kak Ram sembari memberikan penjelasan terkait beberapa panitia yang belum hadir.
Tiba giliran Om Chaer yang menyampaikan pendapat tentang Kemah Sastra yang menjadi tanggung jawabnya.
Om Chaer yang dikenal juga sebagai tokoh Pramuka di Sulawesi Selatan ini meminta masukan terkait peserta, asal peserta dan jumlah kemah yang dibutuhkan untuk dapat memberikan masukan yang tepat terkait kemah sastra.
Om Chaer ternyata tidak hanya memikirkan bagaimana ajang Festival Sastra Kepulauan ini sukses dan semarak, tapi lebih jauh dari itu, beliau sangat memperhatikan keselamatan dari peserta.
“Apakah sudah disiapkan Ambulans ?” tanyanya kepada panitia.
Tidak menunggu jawaban, Om Chaer berkata: “Kalau tidak ada, saya besok siapkan Ambulans. Mengapa ini sangat penting, karena ajang seperti ini, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Dan SOP dari suatu kegiatan perkemahan adalah harus disiapkan mobil ambulans atau tenaga kesehatan,” terang pria yang senang memakai baret pelukis ini.
“Saya juga besok bawa mobil Camper Van saya,” ucapnya usai rapat.
Om Chaer Melihat yang Nyaris Terlupakan
Jumat, 18 September 2026 pukul 17.50 WITA saya tiba di Benteng Somba Opu dan langsung menuju masjid karena kebetulan azan Magrib telah berkumandang.
Usai shalat, di halaman masjid Benteng Somba Opu terparkir 1 mobil ambulans dan 1 mobil mini Camper Van, di belakang Camper Van di pasang meja yang di atasnya ada kompor untuk memasak air. Meja itu dikelilingi oleh Ketua DKSS Arifin Manggau, Mahrus Andis, Syahril Rani Patakaki, Djamal April Kalam, Ram Prapanca, Kak Dewi Ritana dan tentu Om Chaer yang sementara meracik kopi.












