Oleh Aslam Katutu
Makassar, NusantaraInsight — Saya teringat ketika pertama kali menjadi penulis Cerkan (Cerita Kanak-kanak) di Harian Pedoman Rakyat Makassar pada tahun 1980. Saat itu saya masih kelas 5 SD. Alat menulis saya hanyalah pena dan kertas. Tulisan-tulisan sederhana itu diterbitkan setiap Selasa di ruang “Sahabat”. Saya bersyukur para redaktur memahami saya yang masih anak sekolah.
Seiring waktu, saya mengenal mesin ketik. Menulis menjadi lebih mudah, meskipun setiap kesalahan harus ditutupi dengan Tip-Ex. Sekitar tahun 1987, saya mulai mengenal komputer. Dunia menulis kembali berubah. Mengedit, menyimpan, dan mengembangkan tulisan menjadi jauh lebih mudah.
Kini kita memasuki era Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu membantu mencari ide, menyusun kerangka, mengembangkan tulisan, memperbaiki bahasa, hingga melakukan penyuntingan dengan cepat.
Namun, muncul pertanyaan: apakah kecanggihan AI akan membuat kita kehilangan posisi sebagai penulis yang memiliki ide, gagasan, pengalaman, dan sudut pandang sendiri?
Bagi saya, tidak. Dari pena, mesin ketik, komputer hingga AI, teknologi hanyalah alat. Yang tidak boleh berubah adalah manusia di balik tulisan.
AI boleh membantu menyusun kata dan mempercepat pekerjaan, tetapi ide, pengalaman, perenungan, dan makna tetap harus lahir dari manusia. Sebab teknologi dapat membantu menulis, tetapi jiwa tulisan tetap berasal dari penulisnya.
Sebaliknya, penulis dadakan yang makin bermunculan belakangan ini, mudah kita kenali gaya penulisan yang hampir 100 % dibuat oleh AI, mereka hanya memerintahkan Ai begitu saja dengan ide yang sangat minim membuat tulisan-tulisan lalu dengan bangganya merilis di media online. Tidak disadari, kalau tulisan buatan Ai mudah dikenali dan membuat pembaca malas membacanya. Bagaimana bijak menggunakan Ai namun posisi sebagai penulis tidak kehilangan marwah?
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sedang mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan menulis. Dahulu, seorang penulis membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencari ide, menyusun kerangka, merapikan kalimat, dan mengembangkan sebuah tulisan. Kini, sebagian proses tersebut dapat dibantu oleh AI dalam hitungan menit.
Perubahan ini tentu patut disyukuri. Teknologi pada hakikatnya adalah alat yang dapat membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efisien. Namun, setiap kemudahan selalu membawa tanggung jawab. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita boleh menggunakan AI untuk menulis, tetapi bagaimana menggunakannya secara bijak, etis, dan bertanggung jawab.












