Bijak Menggunakan AI dalam Menulis

Bagi seorang penulis, AI seharusnya tidak menjadi pengganti pikiran. Ia cukup menjadi teman berdiskusi, asisten riset, pembantu menyusun struktur, dan editor bahasa.

Sebab tulisan yang benar-benar hidup bukan hanya kumpulan kata. Di dalamnya terdapat pengalaman, pemikiran, perasaan, kegelisahan, keyakinan, dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

 

AI adalah Alat, Bukan Pengarang

Saya melihat AI seperti sebuah kendaraan. Kendaraan dapat membantu kita menempuh perjalanan lebih cepat, tetapi kendaraan tidak menentukan ke mana kita harus pergi.

Begitu pula dalam menulis.

AI dapat membantu mencari jalan, tetapi penulislah yang menentukan tujuan.

AI dapat memberikan banyak kemungkinan judul, tetapi penulis yang menentukan judul mana yang paling sesuai dengan pesan tulisannya. AI dapat membuat berbagai kerangka tulisan, tetapi penulis yang memilih mana yang sesuai dengan pemikirannya. AI dapat memperbaiki kalimat, tetapi penulis tetap harus memastikan bahwa kalimat tersebut tidak menghilangkan karakter dirinya.

Karena itu, jangan menyerahkan seluruh proses kreatif kepada AI. Kita bisa menggunakan rumus 70:20:10

BACA JUGA:  Mari Membangun Desa

70% — Pemikiran, pengalaman, dan keputusan penulis. Penulis menentukan isi, arah, argumentasi, pengalaman, pesan, dan kesimpulan.

20% — Riset dan referensi. Data, artikel, jurnal, Al-Qur’an, hadis, wawancara, dan sumber terpercaya memperkuat tulisan.

10% — Bantuan AI. AI membantu mempercepat brainstorming, struktur, penyuntingan, dan pengembangan bahasa.

Jika seorang penulis hanya memberikan perintah, “Tuliskan artikel untuk saya,” kemudian seluruh hasilnya langsung diterbitkan, maka proses kepengarangan menjadi sangat tipis. Tulisan mungkin terlihat rapi, tetapi belum tentu memiliki jiwa.

 

Pengalaman adalah Kekayaan yang Tidak Bisa Digantikan

Setiap manusia memiliki perpustakaan yang tidak tertulis. Perpustakaan itu bernama pengalaman hidup.

Ada pengalaman ketika bahagia. Ada ketika kecewa. Ada ketika kehilangan. Ada ketika jatuh dan harus bangkit kembali. Ada pula pengalaman ketika kita merasa berada di jalan buntu, lalu menemukan jalan setelah berserah diri kepada Allah.

Semua itu merupakan bahan tulisan yang sangat berharga.

AI tidak pernah menjalani kehidupan kita. Ia tidak pernah merasakan air mata yang jatuh ketika menghadapi persoalan. Ia tidak mengetahui bagaimana hati kita bergetar ketika mendapatkan sebuah pertolongan. Karena itu, pengalaman pribadi tetap menjadi salah satu sumber orisinalitas paling kuat.

BACA JUGA:  Keterangan dan Sumpah Palsu: Dampaknya pada Proses Hukum dan Terlapor yang Terkriminalisasi

Ketika pengalaman itu dituangkan ke dalam tulisan, kemudian AI membantu merapikan bahasa dan alurnya, teknologi justru dapat menjadi sahabat yang baik bagi penulis. Bukan mengambil suara kita, tetapi membantu suara kita terdengar lebih jelas.