Orisinalitas Bukan Sekadar Tidak Menyalin
Sering kali orisinalitas dipahami secara sederhana sebagai tidak menyalin tulisan orang lain. Pemahaman itu benar, tetapi belum lengkap.
Orisinalitas juga menyangkut cara seseorang melihat sesuatu.
Dua orang dapat membicarakan tema yang sama, tetapi menghasilkan tulisan yang berbeda karena pengalaman dan sudut pandangnya berbeda.
Misalnya, banyak orang dapat menulis bahwa kesulitan hidup mempunyai hikmah. Tetapi ketika seseorang menulis berdasarkan perjalanan hidupnya sendiri—bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana hatinya berubah, dan bagaimana ia menemukan makna di balik ujian—maka tulisan tersebut memiliki dimensi personal. Di situlah suara penulis hadir.
Karena itu, menggunakan AI tidak seharusnya membuat semua tulisan menjadi seragam. Justru sebaliknya, AI harus membantu seorang penulis menemukan cara yang lebih baik untuk menyampaikan keunikan pikirannya sendiri.
Jangan Menggunakan AI untuk Menyamarkan Plagiarisme
Kemajuan teknologi juga membawa godaan baru. Ada orang yang mungkin mengambil tulisan orang lain, memasukkannya ke dalam AI, kemudian meminta agar tulisan tersebut diubah supaya tidak terlihat sama.
Ini bukan cara yang bijak.
Mengubah susunan kalimat tidak otomatis mengubah kepemilikan gagasan. Jika substansi karya orang lain diambil tanpa penghargaan dan atribusi yang semestinya, masalah etika tetap ada.
Demikian pula, seorang penulis sebaiknya tidak meminta AI untuk meniru secara dekat gaya khas penulis tertentu.
Lebih baik mengatakan:
“Gunakan bahasa yang sederhana, reflektif, hangat, populer, dan mudah dipahami.”
Dengan demikian, kita sedang membangun karakter tulisan sendiri, bukan meminjam identitas kreatif orang lain.
Hati-hati : AI Tidak Selalu Benar
Ada satu hal penting yang harus selalu diingat: AI bisa salah.
Jawaban AI terkadang terdengar sangat meyakinkan, bahkan ketika informasi di dalamnya tidak benar. Karena itu, seorang penulis tidak boleh kehilangan sikap kritis hanya karena teknologi memberikan jawaban dengan cepat.
Nama tokoh, tanggal, angka, data statistik, hasil penelitian, sejarah, kutipan, maupun informasi hukum perlu diperiksa kembali.
Dalam penulisan artikel keislaman, kehati-hatian harus lebih tinggi.
Ketika mencantumkan ayat Al-Qur’an, periksa surah dan nomor ayat, teks Arab, terjemahan, serta tafsir yang menjadi rujukan. Ketika mencantumkan hadis, periksa sumber dan statusnya. Jangan sampai kita menyandarkan sesuatu kepada Rasulullah ﷺ hanya karena AI mengatakan bahwa itu adalah hadis.












