MAHASISWA BERTANYA

_Catatan kecil kuliah tentang Micro-MICE, Komunitas dan Pariwisata Perkotaan (Bukan hanya sisa anggaran)_
By : Rahman Rumaday

Makassar, NusantaraInsight — Saya berkesempatan berbagi pengalaman bersama mahasiswa Jurusan Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar. Kamis, 3/9/2026

Tema yang kami bicarakan adalah Micro-MICE berbasis komunitas dan pariwisata perkotaan.

br

Di tengah diskusi, seorang mahasiswa bertanya kepada saya:

“Bagaimana caranya agar sebuah kegiatan memiliki dampak, terus membekas, dan memiliki umur yang panjang?”

Saya tersenyum.

Sebab bagi saya, pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan teori.

Maka saya mencoba menjawab berdasarkan pengalaman yang saya temukan selama berinteraksi dengan komunitas dan masyarakat.

Saya mulai dengan sebuah kalimat yang sering dikaitkan dengan Jalaluddin Rumi:

“Sesuatu yang dimulai dari hati akan sampai ke hati.”

Sederhana.

Tetapi mungkin justru karena kesederhanaannya, kalimat itu sering kita lupakan.

Kita terkadang terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat kegiatan menjadi besar, sampai lupa bertanya apakah kegiatan itu benar-benar memiliki makna.

Kita sibuk menghitung jumlah peserta, tetapi lupa menghitung berapa banyak hati yang tersentuh.

BACA JUGA:  DARI MAKASSAR KE MANHATTAN: DUA WAJAH POLITIK YANG KEMBALI BERPIHAK PADA MANUSIA.

Kita sibuk membuat dokumentasi, tetapi lupa melihat apakah setelah kamera dimatikan masih ada sesuatu yang tumbuh.

Kita sibuk membuat acara terlihat hidup, tetapi terkadang lupa bertanya:

“Apakah setelah acara selesai, kehidupan masyarakat juga ikut bergerak?”

Saya tidak mengatakan bahwa ukuran, kemeriahan, dokumentasi, atau jumlah peserta itu tidak penting.

Penting.

Tetapi mungkin itu baru bagian dari kegiatan, bukan keseluruhan makna sebuah kegiatan.

Karena itu, bagi saya, langkah pertama adalah memastikan niat bersih dari tendensi tertentu.

Jangan membawa kepentingan pribadi atau kelompok ketika memulai dan menjalankan sebuah kegiatan.

Sebab masyarakat sebenarnya jauh lebih peka daripada yang kita kira.

Mereka mungkin tidak bertanya.

Mereka mungkin tidak menyampaikan kritik.

Tetapi mereka bisa merasakan apakah kita datang membawa ketulusan atau membawa kepentingan.

Dan di sinilah Micro-MICE berbasis komunitas menjadi menarik.

Micro-MICE tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai MICE dalam ukuran kecil.

Menurut pengalaman saya, kekuatannya justru terletak pada kedekatannya dengan manusia.

Kegiatannya boleh sederhana.

Ruangnya boleh kecil.

BACA JUGA:  Pulau Kodingareng Keke Butuh Sentuhan Wisata

Anggarannya boleh terbatas.

Tetapi jika masyarakat merasa dilibatkan dan memiliki ruang untuk menjadi bagian dari kegiatan, maka sesuatu yang sederhana itu bisa memiliki dampak yang panjang.

br
br