MAHASISWA BERTANYA

Sebab terkadang kita terlalu sering datang kepada masyarakat dengan membawa konsep yang sudah selesai.

Kita membawa proposal.

br

Membawa program.

Membawa jadwal.

Membawa desain kegiatan.

Lalu masyarakat tinggal mengikuti.

Padahal mungkin ada cara lain.

Datanglah sebagai murid, bukan sebagai guru.

Ketika datang ke sebuah tempat, jangan buru-buru merasa bahwa kita sudah tahu semuanya.

Sehebat apa pun kita.

Setahu apa pun kita.

Sebanyak apa pun pengalaman yang kita miliki.

Masyarakat tetap memiliki pengetahuan yang tidak selalu ada di dalam buku.

Mereka tahu lorongnya.

Mereka tahu sejarah kampungnya.

Mereka tahu siapa yang dituakan.

Mereka tahu potensi yang dimiliki.

Mereka juga tahu persoalan yang sedang mereka hadapi.

Maka sebelum membuat kegiatan, mungkin ada baiknya kita belajar satu hal yang sederhana yakni

mendengarkan.

Karena terkadang, solusi terbaik bukan lahir dari rapat yang panjang.

Ia lahir dari percakapan sederhana di teras rumah.

Dari obrolan dengan pemuda kampung.

Dari cerita ibu-ibu.

Dari pengalaman pelaku UMKM.

Dari ingatan orang-orang tua.

BACA JUGA:  Sejauh Ini, dari Lakon ke Lakon (1) (Perjalanan R. Eko Wahono Bersama Teater Lho Indonesia)

Dari anak-anak yang bermain di lorong.

Di situlah sebenarnya kita menemukan roh community-based Micro-MICE.

Masyarakat bukan objek yang kita datangi.

Mereka adalah subjek yang bersama-sama menciptakan pengalaman.

Kita bukan sebatas membuat kegiatan untuk masyarakat.

Tetapi membuat kegiatan bersama masyarakat.

Perbedaan satu kata itu mungkin kecil.

Tetapi dampaknya bisa sangat besar.

Karena ketika masyarakat hanya menjadi penerima, maka kegiatan sangat bergantung kepada siapa yang menyelenggarakan.

Tetapi ketika masyarakat menjadi pelaku, maka kegiatan memiliki kemungkinan untuk hidup lebih lama daripada panitianya.

Inilah yang menurut saya penting dalam pengembangan pariwisata perkotaan.

Kita sering melihat kota melalui bangunan besar, pusat perbelanjaan, hotel, ruang publik, atau destinasi yang sudah dikenal.

Padahal kota juga memiliki cerita yang hidup di ruang-ruang kecil.

Lorong.

Lorong sering kali hanya dianggap sebagai jalan menuju rumah.

Padahal di dalam lorong ada kehidupan.

Ada manusia.

Ada cerita.

Ada kuliner.

Ada seni.

Ada tradisi.

Ada kreativitas.

Ada UMKM.

Ada anak-anak muda.

Ada hubungan sosial.

BACA JUGA:  Muda Foya-Foya,Tua Bertobat, Mati Masuk Surga (Peringatan Buat Kaum Milenial)

Dan semua itu sebenarnya adalah modal pariwisata yang sangat berharga.

Micro-MICE dapat menjadi salah satu cara untuk menghidupkan modal sosial tersebut menjadi pengalaman wisata.

Bukan dengan mengubah masyarakat menjadi tontonan.

Tetapi dengan menghadirkan ruang agar masyarakat dapat menceritakan dirinya sendiri.

Karena menurut saya, wisata yang baik bukan hanya membuat orang berkata:

br
br