MAHASISWA BERTANYA

‘Tempat ini bagus.”

Tetapi membuat orang berkata:

br

“Saya mendapatkan pengalaman di tempat ini.”

Dan lebih jauh lagi yakni

“Saya ingin kembali karena ada cerita yang belum selesai.”

Di sinilah kita bisa melihat bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak selalu harus diukur dari seberapa ramai saat kegiatan berlangsung.

Ada ukuran lain yang mungkin lebih sunyi.

Apakah setelah kegiatan ada UMKM yang semakin percaya diri?

Apakah ada anak muda yang berani membuat kegiatan baru?

Apakah ada komunitas yang semakin solid?

Apakah masyarakat semakin mengenal potensi wilayahnya?

Apakah ada jejaring baru yang terbentuk?

Apakah ada orang yang kemudian berkata:

“Mari kita lanjutkan.”

Kalau jawabannya iya, maka menurut saya kegiatan itu telah menemukan umurnya sendiri.

Sebab kegiatan sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai ketika panggung dibongkar.

Ia selesai ketika tidak ada lagi yang melanjutkan.

Sebaliknya, sebuah kegiatan bisa dikatakan berhasil ketika setelah kita pergi, masyarakat justru mampu berjalan sendiri.

Maka saya sering berpikir yakni

Jangan terlalu bangga jika sebuah kegiatan hanya ramai ketika kita hadir.

BACA JUGA:  KENAPA DUNIA MEMILIH DIAM TERHADAP PENDERITAAN GAZA?

Barangkali yang lebih membanggakan adalah ketika kita tidak hadir, tetapi semangatnya tetap hidup.

Bukan karena kita hebat.

Tetapi karena kita berhasil menumbuhkan rasa memiliki.

Sebab yang membuat sebuah gerakan bertahan bukan selalu orang yang memulainya.

Tetapi orang-orang yang kemudian merasa bahwa gerakan itu adalah bagian dari dirinya.

Mungkin inilah kritik kecil saya terhadap cara kita memandang sebuah kegiatan.

Kita tidak perlu meninggalkan cara-cara lama.

Tidak perlu pula mengatakan bahwa semua yang selama ini dilakukan salah.

Barangkali kita hanya perlu menambahkan satu pertanyaan setelah kegiatan selesai yaitu

“Apa yang tersisa?”

Bukan hanya sisa anggaran.

Bukan hanya sisa konsumsi.

Bukan hanya sisa dokumentasi.

Tetapi sisa nilai.

Apa yang tumbuh?

Siapa yang berubah?

Apa yang bergerak?

Apa yang kemudian dilanjutkan?

Karena pada akhirnya, sebuah kegiatan mungkin hanya berlangsung satu hari.

Tetapi maknanya bisa hidup bertahun-tahun.

Dari kegiatan menjadi pengalaman.

Dari pengalaman menjadi cerita.

Dari cerita menjadi nilai.

Dari nilai menjadi gerakan.

Dan dari gerakan menjadi jejak.

BACA JUGA:  Istana Kesultanan Bima: Jejak Peradaban di Asi Mbojo

Itulah yang saya pahami dari Micro-MICE berbasis komunitas.

Ia bukan tentang membuat sesuatu yang kecil menjadi terlihat besar.

Tetapi tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menjadi bermakna karena dikerjakan dengan hati dan dirawat bersama.

Maka kepada mahasiswa saya mengatakan:

Datanglah dengan hati.

Jaga niat.

br
br