Catatan Hati Mulyati
Maros, NusantaraInsight — Tujuh hari rasanya seperti setahun.
Akhirnya, hari itu tiba juga.
Diskusi Buku _“Ketika Kata Menjadi Mantra”_
Karya Bang Maman — Founder K-Apel Makassar.
Hari libur. Sejak subuh aku sudah beres-beres rumah.
Tanganku sibuk, tapi pikiranku sudah di sana.
Di ruangan hotel bintang lima itu.
Bukan karena mewahnya. Tapi karena orang-orang di dalamnya: pengusaha menukis buku, sastrawan, budayawan, guru besar.
Dan karena… aku diundang langsung oleh penulisnya.
Dua jam sebelum acara, aku sudah di jalan.
Alhamdulillah, 30 menit sebelum mulai aku sudah duduk.
Duduk di ruangan yang membuktikan satu hal: Bahwa kata bisa melukai sampai ke tulang.
Tapi kata juga bisa menyembuhkan, mengangkat orang yang lelah dan lemas dan bahkan. menggeser takdir.
Bang Maman bercerita.
Tentang Tete dari Maluku. Tentang bagaimana sebuah kalimat bisa lahir jadi buku.
Para narasumber ikut membedah. Kata demi kata.
Aku diam. Menyerap semuanya.
Sampai akhirnya aku pulang membawa satu buku.
Malam itu aku baca. Dari halaman pertama sampai akhir.
Dan di tengah-tengahnya, air mataku jatuh.
Karena aku sadar…
Kata yang diucapkan dengan keyakinan itu mantra.
Ia bisa membangunkan jiwa yang sudah menyerah.
Ia bisa menghidupkan lagi orang yang sudah lelah.
Kata bukan sekadar suara.
Ia pintu. Ia jembatan. Ia doa yang menjelma kenyataan.
Dan di saat itulah…
Aku teringat Ibu.
Suara beliau langsung muncul. Jelas. Seperti kemarin.
Tangan beliau masih terasa di pundakku.
Itu hari pertama aku SD. Beliau jongkok, menatap mataku, lalu berkata pelan:
_“Nak, dengar ya…
Kalau ada yang mengolokmu, usap dadamu.
Tarik napas. Buang pelan. Lalu bilang: ‘Saya akan sukses’.
Jangan lawan. Kalau kamu lawan, kamu kasih dia jalan buat menjatuhkanmu. .
Kalau mereka mencibir, bilang sama Allah:
‘Ya Allah, bersihkan cibiran itu. Dan kukembalikan semua kepada-Mu’.”_
Kalimat itu.
Kalimat yang sama diulang saat aku SMP.
Diulang lagi saat SMA.
Diulang lagi saat aku wisuda.
Diulang lagi saat pertama kali aku keluar dari rumah, setelah menikah.
Dan diulang untuk terakhir kalinya…
Saat aku harus meninggalkan kampung.
Mengikut suami ke kota yang bahkan namanya belum pernah kudengar.
Kota asing. Kota yang tak pernah kubayangkan akan jadi tempat aku diuji.
Di kota itulah mantranya Ibu diuji.
Seberapa kuat. Seberapa kokoh.
Dan setiap malam, jawabanku hanya air mata dan sujud.
Di kota itu juga aku mendengar doa Ibu setiap hari:
_“Ya Allah… jadikan anakku orang yang bermanfaat.
Jadikan anakku orang yang bermakna.”_


br
br
br






br
br






br