PEWARISAN SAINS SACRA: RAHMAN RUMADAY, KETIKA ‘MENGGUBAH’ KATA MENJADI MANTRA 

(Catatan Kecil Buku “Ketika Kata Menjadi Mantra”, Karya Rahman Rumaday) 

Oleh: Syafruddin Muhtamar,  

Penulis Beberapa Buku, Dosen Universitas Muslim Indonesia 

 

Makassar, NusantaraInsight — Ditengah buncah zaman modern dalam labirin simulacrumnya. Seringkali kesenyapan ruang tapa, menjadi sangat istimewa dan mewah bagi jiwa ‘yang merindu realitas kesejatian’. Sebuah gejala yang, mungkin hanya dirasakan segelintir kecil manusia. Karena realitas dekustruksi peradaban modern, telah menenggelamkan jiwa kita bersama hiruk pikuknya, yang melenakan.

Kehadiran buku ‘berwajah manis’, mengutip Amir Jaya (sastrawan) karya Rahman Rumaday, yang diberi judul ‘bergaya manifesto linguistik’ mengutip Prof. Mardi Adi Armin (Ahli Fisafat Bahasa), “ketika Kata menjadi Mantra”, di tangan kita, seolah seperti juga pengingat kecil, mengenai sebuah jalan ‘kontemplasi’ betapa: bahwa jiwa senantiasa memerlukan asupan pengetahuan sejati, melalui kata-kata yang mengandung ‘mantra’.

Isi buku, juga tentu akan mengaduk-aduk jiwa, jika ‘anda baca perlahan’, kata penulisannya, sebagai peringatan pembaca dalam buku.

BACA JUGA:  Kemandirian Pola Pikir

Meresapi ‘makna mantrawi’ memang diperlukan keuletan emosi (sofly). Sebagaimana karakteristik makna sejati itu, bahwa kelembutannya hanya mungkin mendarat pada jiwa yang lembut.

Peringatan penulisnya ‘baca perlahan’ adalah tawaran metodolgis memperlakukan ‘bacaan-bacaan mantra’.

Buku “ketika kata Menjadi Mantra”, sesunguhnya berisi ‘kalimat-kalimat mantra’ sebagai ilmu hikma Tradisio, yang nampaknya sengaja disembunyikan oleh penulisnya. Mungkin dengan maksud menjaga ‘adab keilmuan’. Agar ‘kalimat-kalimat magik’ tetap berada pada milieu sakralitasnya. Suatu hal yang patut dalam sistem Tradisi.

Namun hal ini, nampaknya telah membuat pembaca makin penasaran mengenai mana? ‘kata-kata yang menjadi ‘mantra itu.

Rahman rumaday, melalui bukunya ini, ‘tanpa sengaja’ membuka kembali ‘konflik laten’ antara, dunia Tradisi dan dunia Modern. Warisan ilmu hikmah, yang kini menjadi tanggungjawabnya (Rahman Rumaday), dalam mata rantai transimisi sains Tradisi yang berasal dari wilayah kebudayaan Tradisi kampung halamannya. Dalam bahasa Sayyed Hossein Nars, disebutnya sebagai Sience Sacra.

Sains suci adalah khas masyarakat Tradisi. karena itu, hikmah-hikmah Tradisi sebagai ilmu (sience), dapat dikatakan anak-anak kandung dari Sifat Kesucian doktrin-doktrin spritual, religiusitas maupun ilham-ilham ilahiyah pada tokoh-tokoh suci, baik mereka sebagai teosof, alim-ulama, resi maupun pendeta-pertapa; dan bahkan (terutama kandungan) kitab-kitab suci samawi.

BACA JUGA:  DARI ALIF WASHAL AKU BELAJAR

Mantra-mantra ‘yang disebunyikan’ Rahman Rumaday dalam bukunya adalah sejenis sains Sacra. Yang mungkin saja lebih banyak digunakan dalam konteks fungsi etik atau moril. Bukan sebentuk sains sacra sebagai kompilasi doktrinal tentang ‘ajaran-ajaran kecusiaan’, bagi keparipurnaan manusia dan kehidupannya. Dalam bahasa Ibnu Arabi, dinamai ‘proses menjadi’ Insan Kamil.

Namun mantra-mantra yang tersebunyi ini, patut diduga, sebagai sains teknikal dari elemen sains Sacra, yang dapat digunakan dalam mengarungi kehidpan sehari-hari.

Mungkin lebih tepat dapat dikatakan secara filososfi, sebagai “etika” Tradisonal. Yang dalam operasionalnya, tetap dalam koridornya sebagai sains Sacra, dimana obyek dan subyek sains tetap dalam labirin kecucian-Nya tanpa di selah sedikitpun oleh ‘ketidaksucian’ manusiawi.

‘Mantra’ yang telah terwariskan ini, adalah kata-kata yang mengandung tuah suci. Yang dalam kerangka bahasa Tradisi, merupakan wadah ungkap untuk menyatakan kehendak suci manusiawi, dimana oreintasi utamanya adalah permohonan, permintaan pada pemilik Kekuatan Kecusian yang bersifat ‘supramanusiawi’ (Ilahiyah), untuk memberikan atau memperoleh ‘daya guna’ melalui kata atau kalimat suci tertentu. Agar kata-kata yang dilisankan itu, memiliki fungsi etis dan moril dalam keseharian manusia.