PEWARISAN SAINS SACRA: RAHMAN RUMADAY, KETIKA ‘MENGGUBAH’ KATA MENJADI MANTRA 

Budaya ini adalah khas masyarakat Tradisi, ketika keyakinan hanya bertumpuh pada satu kekuatan utama, yakni Ketuhanan. Ketika Manusia sepenuhnya hanya bersandar pada keberadaan-Nya.

Lingkaran utama kehidupan masyarakat Tradisi, berpusat pada wilayah Ketuhanan. Hal yang kontras, ditemui dalam kehidupan masyarakat modern: dimana pusat kehidupan diletakkan pada kemanusiaan (sains ilmiah dan turunanya dalam bentuk produk tehnologi, dari yang sederhana sampai yang kompleks), sebagai pusat kekuatan, pusat realitas.

Karena itu, dalam alam pikiran modern, bahasa ‘mantra’ dan sejeinsnya yang memiliki gejala yang sama, hanya sering menjadi ‘olok-olokan’ ilmiah, sebagai sesuatu yang irrasional. Tidak dapat dipertanggunjawabkan secara rasional.

Misalnya, jika masyarakat modern menderita sakit, mereka ke rumah sakit untuk meminta obat untuk kesembuhan. Masyarakat Tradisi, jika mengalami sakit, mereka mencari tabib, untuk berobat dengan bahan-bahan alam yang telah di ‘mantra-mantrai’.

Fenomena itu, menujukkan: satu masyarakat mengandalkan hasil produksi akal, satu masyasrakat lain mengandalkan, alam sebagai produksi langsung dari tangan Tuhan dan dengan ‘mantra’ yang mengandung ‘hikmah suci’, dan seorang tabib, yang mengabdi dalam profesi sebagai panggilan Tuhan/abdi Tuhan. Satu berorentasi ‘kebenaran manusiawi’, yang satu beroreintasi ‘kebenaran ketuhanan’.

Dalam buku Ketika Kata Menjadi Mantra, Rahman Rumaday, nampaknya ingin mendamaikan ‘pertengkaran itu’, dengan menyebut bahwa meskipun ilmu Modern seringkali susah memahami ‘Mantra’. Namun dapat saja dia dijelaskan secara ilmiah.

BACA JUGA:  Ziarah Jejak Kata

Misalnya melalui Sains Psikologi modern, konsep berfikir positif, merupakan konsep modern yang dapat menjelaskan mengapa seringkali sebuah matra bisa sangat efektif terbukti.

Rahman membuat postulsai mengenai kata-kata matra dalam pola: Logika – Tafsir – Keyakinan – Kekuatan. Bahwa kata-kata mantra bersifat logis karena dapat ditemukan tafsirnya melalui pengalaman, nah penggalan itu yang membentuk keyakinan. Dan karena keyakinan, maka mantra itu memiliki kekuatan.

Tidak ada dikotomi diametral antara sains modern dan sains Tradisi. Sebuah tawaran gagasan yang mungkin saja, dapat memberi titik temu antara dua dunia, yang sesungguhnya ‘bertolakbelakang’ secara paradigmatik.

Karena itu, mari kita membaca dan mencerna esensi yang terbenam di balik buku “Ketika kata Menjadi Mantra”, secara perlahan. Dan mungkin tidak salah, jika kita golongkan sebagai esai-esai filsafat-spritual populer.

Semoga hikmah kebijaksanaan buku karya mutakhir Rahman Rumaday ini, dapat hinggap dan meresap jauh ke dalam pori-pori jiwa.

Dan, jangan dihentikan pembacaannya, hanya karena kita mulai ragu jika, ‘mantra’ tidak lagi mampu “menurunkan bulan dari langit”.

BACA JUGA:  Founder K-Apel Ajak Pak Camat Coblos Ini

SM, 19/7/2026