PEWARISAN SAINS SACRA: RAHMAN RUMADAY, KETIKA ‘MENGGUBAH’ KATA MENJADI MANTRA 

Mantra-mantra ‘yang disebunyikan’ Rahman Rumaday dalam bukunya adalah sejenis sains Sacra. Yang mungkin saja lebih banyak digunakan dalam konteks fungsi etik atau moril. Bukan sebentuk sains sacra sebagai kompilasi doktrinal tentang ‘ajaran-ajaran kecusiaan’, bagi keparipurnaan manusia dan kehidupannya. Dalam bahasa Ibnu Arabi, dinamai ‘proses menjadi’ Insan Kamil.

Namun mantra-mantra yang tersebunyi ini, patut diduga, sebagai sains teknikal dari elemen sains Sacra, yang dapat digunakan dalam mengarungi kehidpan sehari-hari.

br

Mungkin lebih tepat dapat dikatakan secara filososfi, sebagai “etika” Tradisonal. Yang dalam operasionalnya, tetap dalam koridornya sebagai sains Sacra, dimana obyek dan subyek sains tetap dalam labirin kecucian-Nya tanpa di selah sedikitpun oleh ‘ketidaksucian’ manusiawi.

‘Mantra’ yang telah terwariskan ini, adalah kata-kata yang mengandung tuah suci. Yang dalam kerangka bahasa Tradisi, merupakan wadah ungkap untuk menyatakan kehendak suci manusiawi, dimana oreintasi utamanya adalah permohonan, permintaan pada pemilik Kekuatan Kecusian yang bersifat ‘supramanusiawi’ (Ilahiyah), untuk memberikan atau memperoleh ‘daya guna’ melalui kata atau kalimat suci tertentu. Agar kata-kata yang dilisankan itu, memiliki fungsi etis dan moril dalam keseharian manusia.

BACA JUGA:  Live Report Liputan Reformasi 1998 Lewat Telepon Umum

Budaya ini adalah khas masyarakat Tradisi, ketika keyakinan hanya bertumpuh pada satu kekuatan utama, yakni Ketuhanan. Ketika Manusia sepenuhnya hanya bersandar pada keberadaan-Nya.

Lingkaran utama kehidupan masyarakat Tradisi, berpusat pada wilayah Ketuhanan. Hal yang kontras, ditemui dalam kehidupan masyarakat modern: dimana pusat kehidupan diletakkan pada kemanusiaan (sains ilmiah dan turunanya dalam bentuk produk tehnologi, dari yang sederhana sampai yang kompleks), sebagai pusat kekuatan, pusat realitas.

Karena itu, dalam alam pikiran modern, bahasa ‘mantra’ dan sejeinsnya yang memiliki gejala yang sama, hanya sering menjadi ‘olok-olokan’ ilmiah, sebagai sesuatu yang irrasional. Tidak dapat dipertanggunjawabkan secara rasional.

Misalnya, jika masyarakat modern menderita sakit, mereka ke rumah sakit untuk meminta obat untuk kesembuhan. Masyarakat Tradisi, jika mengalami sakit, mereka mencari tabib, untuk berobat dengan bahan-bahan alam yang telah di ‘mantra-mantrai’.

Fenomena itu, menujukkan: satu masyarakat mengandalkan hasil produksi akal, satu masyasrakat lain mengandalkan, alam sebagai produksi langsung dari tangan Tuhan dan dengan ‘mantra’ yang mengandung ‘hikmah suci’, dan seorang tabib, yang mengabdi dalam profesi sebagai panggilan Tuhan/abdi Tuhan. Satu berorentasi ‘kebenaran manusiawi’, yang satu beroreintasi ‘kebenaran ketuhanan’.

brbr
brbr
br