AI BUKAN RUJUKAN AGAMA, PANDANGAN ISLAM TENTANG TEKNOLOGI

Oleh: Nurfitrianti Vivi, S.S., M.Pd.

Barru, NusantaraInsight — Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, muncul fenomena AI (Artificial Intelligence) alias kecerdasan buatan yang juga semakin kreatif. Pada awal kemunculannya, AI hanya berupa gambar-gambar dan desain kartun animasi. Kini bisa jadi logo dan infografis profesional, sampai masuk ke ranah gambar bergerak alias video bahkan sudah banyak tayangan-tayangan hingga pembuatan film produk hasil AI.

Kemunculan AI tidak hanya berputar dalam dunia hiburan gambar maupun video. AI bahkan sudah masuk sampai menyentuh ke ranah agama. Kini muncul video atau tayangan-tayangan ustadzah AI yang diberi nama akun sebagai ustadzah Nia Hajar. Tidak hanya itu, AI juga telah mengubah cara manusia dalam memperoleh informasi. Kerap kali seseorang bertanya seputar keagamaan seperti penjelasan tentang ayat Al-Qur’an, hadist, hukum fikih, hingga persoalan akidah melalui layanan chatbot dari berbagai platform AI. Cukup masukkan prompt pertanyaan maka muncullah video ustadzah AI sedang menjelaskan nampak nyata seolah dalam sebuah forum pengajian lengkap dengan posternya juga suara-suara pesertanya.

br

Bagi orang awam yang kerjanya cuma rebahan, mabar ML sambil scroll apalagi hidupnya berdasarkan standar caption toktok, termasuk mayoritas emak-emak #FBpro sulit bagi mereka membedakan video fact or fake. Bahkan tidak sedikit mengikuti dan belajar agama sesempit lewat video saja tanpa adanya validasi dari kitab-kitab yang disebutkan ustadzah AI itu. Padahal AI masih bisa salah, memberikan informasi kadang tidak akurat, bahkan sering juga menyampaikan jawaban yang tampak meyakinkan padahal keliru, sebagaimana ditegaskan oleh pakar teknologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dimuat dalam rubrik khazanah.republika.co.id

BACA JUGA:  Hutan Memprihatinkan, Provinsi NTB Baru “Bangun Tidur”

Fenomena ini menunjukkan bahwa digitalisasi telah memasuki ruang yang selama ini menjadi domain otoritas keilmuan para ulama. Memang di satu sisi, perkembangan teknologi tersebut memberi kemudahan akses terhadap literatur Islam kita, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan dunia digital. Namun di sisi lain muncul pertanyaan, apa iya AI layak dijadikan rujukan agama sebagaimana ulama? Jom kita bahas.

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) yang dikutip dari khazanah.republika.co.id mengakui bahwa kemunculan layanan berbasis AI memang menjadi fenomena yang mudah diterima anak muda saat ini karena cepat, praktis, dan dapat diakses kapan saja.

Namun perlu dipahami cara kerja AI hanyalah sistem komputasi yang mengolah dan memproses data yang tersedia, mengenali pola, lalu menyusun jawaban berdasarkan informasi yang telah dipelajari. AI tidak memahami hakikat kebenaran, karena AI tidak berakal, tak punya kesadaran moral, tak punya iman, maupun rasa takut kepada ALLAH Swt.

brbr
brbr
br