Catatan Pinggir Festival Sastra Kepulauan IX: Om Chaer Melihat yang Nyaris Terlupakan

“Betul-betul, beliau menyiapkan ambulans dan camper van untuk kegiatan ini,” pikirku.

Ternyata bukan itu saja, Om Chaer ternyata seorang pelestari Kelong. Hal ini terungkap menjelang penutupan Festival Sastra Kepulauan. Kak Yudhistira Sukatanya yang membongkarnya, “Awing, ini Chae (begitu Kak Yudi biasa menyapa) Maestro Kelong, pergi ki ke rumahnya.”

“Bahkan S3 Chae ini, yang dia teliti itu tentang sastra Kelong,” kata Yudi kemudian.

Bahkan untuk mendapatkan satu tulisan Kelong, Om Chae rela berkorban masuk ke desa-desa di akhir pekan untuk mengumpulkan naskah-naskah Kelong tersebut.

“Biasanya, jika akhir pekan saya mengunjungi kampung-kampung, saya bertemu dengan misalnya seorang tukang batu, saya tanya berapa gaji ta perhari, dia jawab 120 ribu, maka saya beri kertas dan pulpen untuk menuliskan Kelong. Saya sampaikan”jangan maki keluar 1 Minggu, tulis maki Kelong yang kita ingat, saya pa yang bayar gaji ta,” ulas Om Chaer menceritakan cara mendapatkan naskah Kelong.

“Dari tulisan-tulisan itu saya kumpulkan dan kemudian saya tulis kembali sesuai dengan struktur Kelong,” kisahnya.

BACA JUGA:  Akhir APBN 2024

Bukan itu saja, dalam melestarikan Kelong, Om Chaer menuliskan di kampas untuk di pajang di galerinya. Ini dijelaskan penyair Ustadz Amir Jaya yang kemudian mengagendakan untuk mengunjungi galerri Om Chaer.

“Saya ada pajang di rumah tulisan Kelong nya itu Awing,” kata Kak Yudi menyambung pernyataan Ustad Amir Jaya.

Dari dua cerita di atas, saya berkesimpulan bahwa Om Chaer ini mampu melihat hal-hal penting yang nyaris terlupakan.

Pertama, menyiapkan Ambulans untuk para peserta di Festival Sastra Kepulauan IX 2026. Ini adalah bentuk kehati-hatian dalam suatu ajang besar sekelas festival. Beliau memberikan antisipasi atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Yang mungkin kita sebagian besar tidak sadar bahkan tidak memikirkan hal itu.

Kedua, hasratnya untuk memburu naskah-naskah Kelong yang merupakan naskah yang sudah nyaris punah dan beliau menyimpan di galeri seninya.

Dari kedua “peristiwa” ini, saya teringat kata-kata bijak dari dua tokoh terkenal, yaitu:

Nikola Tesla:
“Pikiran kita terkadang sangat sensitif terhadap pengaruh luar yang masuk dan membimbing kita. Aku sudah melihat jauh ke masa depan, menciptakan hal-hal yang bahkan belum terpikirkan oleh zamanku.”

BACA JUGA:  Giri Arnawa: Soal Banjir dan Perubahan Iklim

Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince):
“Inilah rahasia ku. Sederhana saja: orang hanya bisa melihat dengan jelas dengan hatinya. Apa yang esensial tidak terlihat oleh mata.”

Makan Coto Kuah Putih

“Om Chaer, saya pulang dulu,” sapaku sembari mengambil motor yang diparkir tak jauh dari armadanya.

“Lewat mana ki, dek,” tanya Om Chaer.

“Lewat Abdul Kadir ji, Kak,” jawabku.

“Cocok mi itu, bisa ka numpang sampai di situ, ku simpan ji mobil ku bela” kata Om Chaer lagi.

“Di mana rumah ta Kak, saya antar langsung maki saja,” kataku lagi.

“Di Bontoduri ji dek,” jawabnya.

“Oh, iye, sama maki,” kataku, sembari otakku memetakan jalan akan menuju Jalan Daeng Tata 1 terus ke Bontoduri.

Saya pun berboncengan dengan beliau, ketika melalui jalan Abdul Kadir, beliau kemudian berkata, “lewat Pa’baeng-baeng mi nah. Ada Coto kuah putih itu di sana enak. Lapar ka bela.

Malam yang kian larut dan angin yang menikam perut tentu tak akan menolak semangkuk Coto kuah putih yang menggoda. Saya pun menyanggupinya, bukan karena terlalu lapar, akan tetapi niat tulus dari Om Chaer yang saya tahu tak mau “Berutang Budi” kepada orang yang dia rasa membantunya.

BACA JUGA:  KETIKA SEJARAH TAK MENCERITAKAN YANG SEBENARNYA

Kami pun singgah di warung coto kuah putih di perempatan jalan Kumala, Muh. Tahir, Andi Tonro, untuk menikmati semangkuk makanan khas Makassar dengan dua ketupat.