“Apakah sudah disiapkan Ambulans ?” tanyanya kepada panitia.
Tidak menunggu jawaban, Om Chaer berkata: “Kalau tidak ada, saya besok siapkan Ambulans. Mengapa ini sangat penting, karena ajang seperti ini, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Dan SOP dari suatu kegiatan perkemahan adalah harus disiapkan mobil ambulans atau tenaga kesehatan,” terang pria yang senang memakai baret pelukis ini.
“Saya juga besok bawa mobil Camper Van saya,” ucapnya usai rapat.
Om Chaer Melihat yang Nyaris Terlupakan
Jumat, 18 September 2026 pukul 17.50 WITA saya tiba di Benteng Somba Opu dan langsung menuju masjid karena kebetulan azan Magrib telah berkumandang.
Usai shalat, di halaman masjid Benteng Somba Opu terparkir 1 mobil ambulans dan 1 mobil mini Camper Van, di belakang Camper Van di pasang meja yang di atasnya ada kompor untuk memasak air. Meja itu dikelilingi oleh Ketua DKSS Arifin Manggau, Mahrus Andis, Syahril Rani Patakaki, Djamal April Kalam, Ram Prapanca, Kak Dewi Ritana dan tentu Om Chaer yang sementara meracik kopi.
“Betul-betul, beliau menyiapkan ambulans dan camper van untuk kegiatan ini,” pikirku.
Ternyata bukan itu saja, Om Chaer ternyata seorang pelestari Kelong. Hal ini terungkap menjelang penutupan Festival Sastra Kepulauan. Kak Yudhistira Sukatanya yang membongkarnya, “Awing, ini Chae (begitu Kak Yudi biasa menyapa) Maestro Kelong, pergi ki ke rumahnya.”
“Bahkan S3 Chae ini, yang dia teliti itu tentang sastra Kelong,” kata Yudi kemudian.
Bahkan untuk mendapatkan satu tulisan Kelong, Om Chae rela berkorban masuk ke desa-desa di akhir pekan untuk mengumpulkan naskah-naskah Kelong tersebut.
“Biasanya, jika akhir pekan saya mengunjungi kampung-kampung, saya bertemu dengan misalnya seorang tukang batu, saya tanya berapa gaji ta perhari, dia jawab 120 ribu, maka saya beri kertas dan pulpen untuk menuliskan Kelong. Saya sampaikan”jangan maki keluar 1 Minggu, tulis maki Kelong yang kita ingat, saya pa yang bayar gaji ta,” ulas Om Chaer menceritakan cara mendapatkan naskah Kelong.
“Dari tulisan-tulisan itu saya kumpulkan dan kemudian saya tulis kembali sesuai dengan struktur Kelong,” kisahnya.
Bukan itu saja, dalam melestarikan Kelong, Om Chaer menuliskan di kampas untuk di pajang di galerinya. Ini dijelaskan penyair Ustadz Amir Jaya yang kemudian mengagendakan untuk mengunjungi galerri Om Chaer.
“Saya ada pajang di rumah tulisan Kelong nya itu Awing,” kata Kak Yudi menyambung pernyataan Ustad Amir Jaya.
Dari dua cerita di atas, saya berkesimpulan bahwa Om Chaer ini mampu melihat hal-hal penting yang nyaris terlupakan.












