Catatan Pinggir Festival Sastra Kepulauan IX: Om Chaer Melihat yang Nyaris Terlupakan

Pertama, menyiapkan Ambulans untuk para peserta di Festival Sastra Kepulauan IX 2026. Ini adalah bentuk kehati-hatian dalam suatu ajang besar sekelas festival. Beliau memberikan antisipasi atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Yang mungkin kita sebagian besar tidak sadar bahkan tidak memikirkan hal itu.

Kedua, hasratnya untuk memburu naskah-naskah Kelong yang merupakan naskah yang sudah nyaris punah dan beliau menyimpan di galeri seninya.

Dari kedua “peristiwa” ini, saya teringat kata-kata bijak dari dua tokoh terkenal, yaitu:

Nikola Tesla:
“Pikiran kita terkadang sangat sensitif terhadap pengaruh luar yang masuk dan membimbing kita. Aku sudah melihat jauh ke masa depan, menciptakan hal-hal yang bahkan belum terpikirkan oleh zamanku.”

Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince):
“Inilah rahasia ku. Sederhana saja: orang hanya bisa melihat dengan jelas dengan hatinya. Apa yang esensial tidak terlihat oleh mata.”

Makan Coto Kuah Putih

“Om Chaer, saya pulang dulu,” sapaku sembari mengambil motor yang diparkir tak jauh dari armadanya.

BACA JUGA:  Catatan Ringan Sambut Konferprov PWI Sulsel : "Fajar" Kembali Bertarung 

“Lewat mana ki, dek,” tanya Om Chaer.

“Lewat Abdul Kadir ji, Kak,” jawabku.

“Cocok mi itu, bisa ka numpang sampai di situ, ku simpan ji mobil ku bela” kata Om Chaer lagi.

“Di mana rumah ta Kak, saya antar langsung maki saja,” kataku lagi.

“Di Bontoduri ji dek,” jawabnya.

“Oh, iye, sama maki,” kataku, sembari otakku memetakan jalan akan menuju Jalan Daeng Tata 1 terus ke Bontoduri.

Saya pun berboncengan dengan beliau, ketika melalui jalan Abdul Kadir, beliau kemudian berkata, “lewat Pa’baeng-baeng mi nah. Ada Coto kuah putih itu di sana enak. Lapar ka bela.

Malam yang kian larut dan angin yang menikam perut tentu tak akan menolak semangkuk Coto kuah putih yang menggoda. Saya pun menyanggupinya, bukan karena terlalu lapar, akan tetapi niat tulus dari Om Chaer yang saya tahu tak mau “Berutang Budi” kepada orang yang dia rasa membantunya.

Kami pun singgah di warung coto kuah putih di perempatan jalan Kumala, Muh. Tahir, Andi Tonro, untuk menikmati semangkuk makanan khas Makassar dengan dua ketupat.

BACA JUGA:  MENJADI PENONTON HIDUP ORANG LAIN : (Nasehat buat kaum milenial)

Sembari makan, kami berbincang seputar seni, sastra dan juga kewartawanan yang ternyata pernah juga digelutinya sebelum akhirnya menjadi PNS.

Dari ajakan makan Coto kuah putih, saya menarik kesimpulan bahwa Om Chaer ini berpegang pada hadist nabi yang bunyinya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Chaeruddin Hakim Sang Guru, Seniman, dan Budayawan
(Oleh: Badaruddin Amir)

Penampilannya mirip pelukis Pak Tino Sidin (pelukis idola anak-anak pada tahun 1970-an) yang jarang melepas baret di kepala kecuali saat berdinas dan beribadah. Penyair kreatif ini sesungguhnya adalah seorang pejabat pada Dinas Pendidikan Kota Makassar.
Jenjang kariernya dimulai saat dia menjadi guru SMP di Kabupaten Wajo yang dekat dengan Danau Tempe. Kepenyairannya pun mulai ditempa dari sana dengan menerbitkan sebuah kumpulan puisi berjudul “Danau Semesta.”