Karya-karyanya yang telah dibukukan berjudul “Lagu Perjalanan” (Kumpulan Puisi, Kesas 1986), “Danau Semesta” (Kumpulan Puisi, Pemda Kab. Wajo 1995), “Mimpi terakhir” (Kumpulan Puisi, Kesas 1988), ‘‘Laut Kampung Nelayan” (Kumpulan Puisi, PLAN Internasional 1995), “Nasihat untuk Presiden” (Kumpulan Puisi, LK3B Sulsel, 2003), “47 Sajak-sajak Alam” siswa SMPN 3 Makassar — sebagai editor, Kanwil Kehutanan, Sulsel 1996).
Juga ada “Kebun Cinta” (Kumpulan Puisi, LK3B, Sulsel 2002). Karya puisinya yang lain terkumpul dalam antologi bersama: “Jejak-Jejak Puisi Ombak Makassar” (Dewan Kesenian sulawesi Selatan, 2000), “Pintu yang Bertemu” (BKKI Kota Makassar, 2003), “Surga yang Tak Nikmat” (BKKI Kota Makassar-Dewan Pendidikan Kota Makassar, 2004).
Selain karya puisi, penyair penerima anugrah Seni Bidang Sastra “Celebes Award” tahun 2007 dari Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan ini juga menulis beberapa naskah drama antara lain berjudul “Penjara” (FP2BSI Sulsel 1996), “Dua Sisi” (FP2BSI Sulsel, 1996).
Tesisnya pada Pascasarjana UNM mengungkap nilai-nilai luhur pada “Kelong” (Salah satu bentuk puisi tradisional Makassar dalam bentuk lagu) telah mengilhaminya untuk mengangkat “Kelong” sebagai salah satu genre pementasan puisi yang unik dan belum dijamah oleh penyair lain.
Menyertai “tesis” tersebut, ia telah menerbitkan buku berjudul “Kitab Kelong Makassar 4 Bahasa” (BKKI Kota Makassar kerjasama Pustaka Gora , 2006), “Lukisan Kelong Tanah Liat” (LK3B Sulsel, 2006), dan Tafsir Kelong Makassar” (de La Macca Press, 2016).
Chaeruddin juga menggarap serangkaian proyek pribadi dokumentasi audio-visual tentang kelong seperti, “Sastra Tutur Sinrilik Datumuseng” (LK3B Sulsel, 2006), “Sastra Tutur Sinrilik I Manakkuk” (LK3B Sulsel, 2006), “Kelongna Anak Loloa –Syair Kelahiran Bayi” (LK3B Sulsel, 2006), “Sisaklakna Nyawaya na Tubuah – Syair Syakratul Maut” (LK3B Sulsel , 2006), serta beberapa video clip lagu-lagu bugis Makassar.
Ia pun aktif melakukan Pameran Keliling “Sastra Kelong” hingga oleh teman-temannya disandangkan sebuah gelar baru “Penyair Kelong”.












