Cerita Sebelum Ngopi

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator Satupena Sulawesi Selatan)

Makassar, NusantaraInsight — Jauh sebelum merencanakan sebuah buku dengan menu utama kopi, saya punya pengalaman bersentuhan dengan kopi dalam ragam cerita.

Sesungguhnya, saya tadinya bukanlah seorang peminum atau penikmat kopi. Saya malah pertama kali mengkonsumsi kopi dengan cara yang mungkin terlihat aneh. Ketika masih kanak-kanak, saat masih tinggal di Ambon, ada kebiasaan meniru tetangga yang merasai kopi dengan cara menjilatnya, tetapi terlebih dahulu dicampur dengan gula.

Sesendok kopi campur gula itu ditaruh di atas telapak tangan, lalu dijilat, layaknya menjilat es krim, memberi sensasi rasa yang unik.

Di rumah kami, saat itu, hanya kakak ipar, Daeng Amir, yang minum kopi rutin pagi dan sore. Persediaan kopi memang selalu ada di stoples, tetapi sebagian besar dari kami tidak menyentuhnya untuk dikonsumsi.

Kopi itu lebih untuk menjamu tamu bila datang ke rumah kami di Air Putri, Ambon. Bahkan ketika remaja pun, saat sudah duduk di bangku SMA, saya sama sekali bukan peminum kopi.

BACA JUGA:  Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. Mengenang Ayahnya. Buku ‘Bunga Rampai Sosiologi’ pada Tahun Kelahiran

Pasalnya, ada stigma di Ambon, kala itu, menganggap remaja yang minum kopi seperti orang tua hehehe.

Dahulu, belum ada kopi saset dengan banyak varian rasa dan merek seperti sekarang. Jadi sudah harus punya stok kopi bubuk di rumah.

Nah, kopi bubuk ini mesti dibeli di pasar secara eceran per ons. Biasanya, begitu persediaan kopi mulai menipis di stoples, orang tua akan meminta untuk ke pasar membeli kopi giling—begitu sebutannya.

Kenyataannya memang kopinya digiling atau istilah kerennya digrinder. Namun, sebelum digiling, kita—sebagai konsumen—terlebih dahulu memilih jenis kopi apa yang akan dibeli. Jenis-jenis kopi yang akan dipilih itu diletakkan dalam stoples dengan ukuran yang sama, sehingga biji-biji kopi berbentuk bulat, oval, dan lonjong terlihat jelas.

Saat awal tinggal di Makassar, kopi juga belum menjadi keseharian saya. Padahal, di era akhir 80-an hingga tahun 90-an itu, saya kerap membuat spanduk dan mendekor acara pesta pernikahan, yang dituntut harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaan.

Namun, kopi belum menjadi keharusan atau tuntutan. Saya malah lebih memilih “susu” kental manis. Satu kaleng kental manis, saya bisa meminumnya hanya dalam 2-3 kali tuang.

BACA JUGA:  Kartini 4.0: Empowerment atau Eksploitasi?

Ternyata, belakangan, minuman tersebut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ditegaskan sama sekali tidak mengandung susu. Sialan!

Cerita lain, terkait kopi, yakni saya pernah diberi kopi yang dicampur garam oleh adik saya, Hasan Basri (Rayu), dengan harapan akan menemaninya begadang.

Tanpa sepengetahuan saya, kopi itu saya minum seperti biasa. Tidak sampai dingin, kopi itu pun tandas. Setelah itu, saya tidur, tanpa ada pengaruh dari efek kopi campur garam tersebut.

Keesokan harinya, baru saya diceritakan tentang kopi campur garam itu. Tentu saja, dia kecewa karena skenarionya tidak kesampaian.

Ada pula istilah kopi lambasak, yang saya dengar kalau ke rumah mak Rannu (alm), tante, di Kampung Jangka, Sungguminasa, Kabupaten Gowa.

Lambasak dalam bahasa Makassar, artinya tidak kental (agak cair), bisa pula bermakna hambar. Begitu kami naik ke rumahnya yang, waktu itu, masih bergaya tradisional (balla rate), tak lama berselang akan disuguhkan kopi lambasak andalannya.

Kopinya ditaruh dalam cerek kuningan, di atas kapparak (talam), nanti dituang sendiri di gelas. Setelah berada lama di Makassar, saya terbiasa minum kopi lambasak ini, terutama bila ada hajatan keluarga, dan di sana kami mendekor.

BACA JUGA:  Zakat: Dari Konsumtif ke Produktif, Menuju Mustahik yang Mandiri

Tahulah saya bahwa itu adalah kopi sejuta umat yang menemani anak-anak muda begadang.