BUDAYA MEMBACA, MEMBACA BUDAYA: MENGEJA ZAMAN?

Budaya membaca membaca budaya
Budaya membaca membaca budaya

Oleh : Syafruddin Muhtamar Peminat Budaya, Dosen Universitas Muslim Indonesia)

NusantaraInsight, Makassar — Ketika founder K-Apel, mengirim pesan melalui WA, berisi plyer: Acara Diskusi bertajuk “Budaya Membaca, Membaca Budaya”, dan meminta untuk menjadi salah seorang pembincang. Saya menyatakan ‘pikir-pikir’, dan memintanya mencari pembincang yang lebih kompeten, seorang budayawan ‘asli’. Saya memiliki minat pada kebudayaan, tapi bukan ahli budaya. Namun, beliau menyatakan sebuah ‘latarbelakang’ bahwa topik ini, sedikit banyaknya telah dipengaruhi oleh ngobrol lepas kami, mengenai ‘kebudayaan’ modern dan tradisional, secara ‘sambil lalu’ di warung kopi. Dan saya merasa kemudian, sulit untuk mengelak.

Karena itu, saya mencoba memelototi dan mengamati sepintas subyek diskusi: “Budaya Membaca, Membaca Budaya”. Dan terbersit dipikiran untuk memberi ‘makna’ fungsional atas topik: bahwa ini dapat merupakan ini sebuah cara untuk mengeja zaman (?).

Proposisi ‘budaya membaca’ dan proposisi ‘membaca budaya’, secara praktis mengandung makna sebagai perilaku budaya. Keduanya adalah ‘praktik kebudayaan manusia’.
Term ‘mem-baca’ sendiri, merupakan penggambaran dari bakat purba manusia, yakni keingintahuan. Manusia adalah mahluk, yang digambarkan sebagai ciptaan yang paling ‘memiliki rasa penasaran’ terhadap sesuatu tertentu. Dan membaca merupakan cara manusia untuk menjawab rasa penasaran itu. Maka esensi mem-baca adalah mencari dan memperoleh pengetahuan.

BACA JUGA:  Kenangan pada Kassi-Kassi Era Akhir 80an hingga Awal 90an

Jika merujuk pada arti kamus, membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yg tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Maka membaca, salah satunya berkaitan dengan ‘mekanisme’ melihat dari manusia (baik lahir maupun batin).
Karena itu secara fisik, manusia dikaruniaI oleh Allah SWT, sebuah organ penglihatan (mata lahir), dan ‘organ penglihatan’ rohani (akal, intuisi dan hati/kalbu). Tentu, dimaksudkan agar manusia itu dapat mengetahui.

Mungkin ini juga, mengapa perintah pertama dalam al-Quran adalah ‘iqra’ (bacalah). Namun tidak berhenti disitu, pada perintah membaca, tetapi Dia, meminta kepada NabiNya Muhammad SAW, “dengan nama Tuhanmu”. “Bacalah dengan nama tuhanmu”.

Membaca Budaya

Beranjak dari determinasi sederhana itu, maka membaca memiliki makna universal. Kita tidak hanya harus berhenti sekedar membaca secara fisik, tetapi juga secara rohani. Jika ‘budaya membaca’ adalah satu kebiasaan positif yang harus terus menerus dibina, agar kita berpengetahuan. Yang dengan pengetahuan itulah, manusia dibedakan dengan mahluk ciptaan tuhan lainnya, dalam posisi derajat atau kedekatannya dengan atau terhadap Tuhan.

BACA JUGA:  Janjian Bertemu di Warkop

Dalam konteks inilah, ‘budaya membaca’ itu menjadi penting dalam ‘membaca budaya’. Membaca budaya adalah melihat, memahami, menghayati atau merefleksi atau merenungkan pikiran, perilaku, ciptaan manusia dalam kehidupannya.
Ringkasnya, membaca budaya adalah menghayati atau merenungkan kebudayaan kita sendiri sebagai manusia. Karenanya, membaca budaya, boleh kita menyebutnya mengeja zaman.

Saya kira inilah yang berat, sebagai praktik kebudayaan manusia: “menimbang-nimbang ulang kehidupan budaya kita”. Sebab membaca budaya, bisa bermakna ‘memikirkan kembali kebudayaan kita’.

Berfikir telah menjadi sebuah masalah bagi sebagian besar masyarakat secara umum. Kita ‘sudah tidak ada waktu’ memikirkan lagi kehidupan kita sendiri. Kita ‘senang’ menyerah saja pada aliran sungai kehidupan. Kemana arus ‘umum’ bergerak kesitu kita menuju.

Maka, Plato mengingatkan manusia, melalui kata-katanya: kehidupan yang tidak direnungkan, adalah kehidupan yang tidak layak dijalani.