BUDAYA MEMBACA, MEMBACA BUDAYA: MENGEJA ZAMAN?

Budaya membaca membaca budaya
Budaya membaca membaca budaya

Mengeja Zaman

Sejarah kehidupan kita adalah, kelindan dua arus kebudayaan besar. pertama Kebudayaan Tradisional dan kedua Kebudayaan Modern. Zaman ibarat tanah kebun. Pada waktu lampau di kebun itu, manusia hanya menanam pohon Tradisi. Pada waktu kekinian, manusia hanya ingin berkebun pohon Modern, meskipun pohon Tradisi telah mengakar berabad-abad. Namun kebun itu, kini seperti hutan belantara, yang nampak hanya pohon Modern. Pohon tradisi, telah menjelma belukar kerdil, terisi disudut-sudut tanah kebun zaman Modern, baik dalam makna ‘kuantitas’ maupun ‘kualitas’.

Zaman modern adalah rimbunan kemajuan kehidupan ekonomi manusia, yang ditopang oleh sains dan teknologi. Tidak ada kehidupan yang luput dari modernisasi. Berawal dari kehidupan bidang ekonomi, kemudian menjalar pada kehidupan lainnya, seperti bidang sosial, politik, hukum dan budaya.

Banyak yang beranggapan tidak relevan lagi melihat dikotomi, antara Tradisionalisme dan Modernisme. Dianggap, bahwa Tradisi sudah menjadi masa lalu, masa sekarang adalah modernisme. Kata mereka, kita tidak ingin kembali ke masa lalu, tetapi bergerak menuju ke masa depan. Menurut hemat saya, dikotomis Tradisi dan Modernisme, masih sangat relevan, karena menyangkut implikasi ‘yang menakutkan’ dari eksistensi kebudayaan modern ini.

BACA JUGA:  Buku Biografi Ajoeba Wartabone dan Pentingnya Arsip Sejarah

Tidak ada yang dikhawatirkan dari kebudayaan modern, selain eliminasi atau menguapnya nilai-nilai sublim dari kehidupan manusia. Kebudayaan modern, dengan kemegahan sains dan teknologinya, kata Sayyed Hossein Nasr, telah menciptakan dekadensi humanistik (keruntuhan kemanusiaan). Fritjof Capra, menyebut: pada abad 20 kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, suatu krisis kompleks dan multidimensional, yang menyentuh semua lapisan kehidupan manusia, dalam wujud krisis kesehatan, krisis ekonomi, krisis lingkungan, krisis keamanan, krisis politik, hingga krisis moral dan spritualitas. Ini merupakan implikasi atau efek yang mengerikan dan menghancurkan dari aplikasi sains melalui teknologi, dalam kebudayaan modern.

Ditengah situasi gamang dan chaos karena implikasi teknologi yang sedemikian massif, manusia merindu nostalgia masa lalu dalam Tradisi. Bagi masyarakat yang belum sepenuhnya tercerabut dari akar Tradisionalismenya, mungkin masih punya harapan. Namun jika generasi kita, sudah sepenuhnya terpisah dari akar kebudayaan Tradisi, maka mereka akan terus terseret dalam rasa gamang kehidupan yang tiada ujung.

Kebutaan ‘paradigmatik’ kita, mengenai Tradisi sebagai akar kebudayaan bangsa dan Modernisme sebagai kebudayaan ‘parasit permanen’ abad mutakhir, menimbulkan, bukan hanya gejala tetapi juga penyakit ‘scizofrenia kebudayaan’. Diam-diam kita mengidamkan Tradisi, karena merupakan ‘esensi budaya’ manusia, saat bersamaan kita tetap cemas dan khawatir dalam kenikmatan modernisme.

BACA JUGA:  Kata, Kota, dan Kita

Penutup

Maka membaca budaya sebagai ‘metode’ mengeja zaman, adalah (1) Mendalami pikiran/paradimga Tradisi, sebagai sebagai sistem hidup manusia yang berbasis nilai-nilai moral dan etik dari sumber-sumber spritualisme dan/atau religiusitas tertentu. Tuhan sebagai pusat kebudayaan. (2) Memahami spirit/paradigma Kebudayaan Modern, sebagai sistem kehidupan manusia yang berbasis pada nilai dan moral rasionalisme ilmiah, yang diaplikasikan dalam tehnologi dengan segala levelnya, yang akhirnya membentuk masyarakat industri. Dari era industri 1.0 hingga 5.0. Dan manusia sebagai pusat segala aktivitas kehidupan. (3) Mengetahui secara historis, bahwa Tradisi merupakan awal sejarah dan kebudayaan modern bukan akhir sejarah, tetapi ‘fase sejarah’ yang mendorong manusia untuk kembali kepada Tradisi. Sebagaimana puisi Sanai, menyebut: kebenaran yang datang awal, dia akan tiba terakhir.