Menjahit Harapan di Sela Lelah

By Rahman Rumaday

NusantaraInsight, Makassar — Lorong sempit itu membentang dengan kesederhanaannya sendiri. Dinding rumah saling berhadapan, menyisakan ruang yang pas untuk dua orang berpapasan sambil sedikit menahan bahu. Di atas kepala, jemuran bergantungan kaus, sarung, pakaian anak-anak tetap tergelar meski langit tampak mendung. Seolah ada keyakinan diam-diam bahwa hari esok selalu pantas ditunggu, apa pun cuacanya.

Hidup di lorong seperti ini bukan tanpa beban. Panas, sempit, dan kerap bising oleh suara kehidupan yang berjalan bersamaan. Lelah hadir apa adanya, tanpa dramatisasi. Mengaku lelah justru menjadi bentuk kejujuran jiwa. Albert Camus pernah menulis bahwa hidup kerap terasa absurd, namun kejujuran untuk mengakuinya adalah awal keberanian. “Kejujuran adalah keberanian untuk melihat absurditas hidup tanpa lari darinya.” ~ Albert Camus. Di lorong ini, keberanian itu bernama menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.

Tanah berbiji batu-batu kecil menjadi saksi langkah-langkah sederhana yang terus berulang. Sandal tipis beradu dengan permukaan yang tidak rata, melahirkan irama kecil keseharian. Setiap langkah bukan lompatan besar, melainkan pengulangan yang setia. Barangkali begitulah mimpi disambung pelan, rendah hati, dan tidak pernah benar-benar berhenti.

BACA JUGA:  PERJUANGAN BURUH DALAM LEMBARAN ARSIP (Dilupakan tapi Dikenang)

Di ruang yang terbatas ini, makna berbagi menemukan wajahnya yang paling sederhana.

“Berbagi tidak menunggu kecukupan materi. Tidak harus menanti dompet penuh atau meja makan berlimpah. Berbagi hadir lewat sapaan, lewat kesediaan mendengar cerita yang mungkin telah berulang kali dituturkan.”

Kehadiran, pada akhirnya, adalah bentuk memberi yang paling jujur. Seperti yang diingatkan Mother Teresa, melakukan hal kecil dengan cinta jauh lebih bermakna daripada menunggu kesempatan melakukan hal besar. “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.” ~ Mother Teresa

Berbagi memang asyik dan menyenangkan. Bukan karena memberi membuat kita lebih tinggi, tetapi karena ia membuat kita merasa sama-sama manusia. Sebuah sapaan pagi, tawa anak-anak yang berlarian dengan sandal tipis di tanah berbatu, atau obrolan singkat di depan rumah semuanya adalah bentuk berbagi. Di sanalah makna #BerbagiItuCinta menemukan wujudnya yang paling sederhana sekaligus paling jujur.

Di tengah lelah, harapan tetap dibuka. Jemuran yang digantung meski cuaca mendung menjadi metafora paling dekat dengan kehidupan warga di sini. Mereka tahu hujan bisa turun kapan saja, tetapi pakaian tetap dijemur, sebab harapan pada cerah selalu disimpan. Vaclav Havel pernah berkata, “Harapan bukan keyakinan bahwa sesuatu akan berakhir baik, tetapi kepastian bahwa sesuatu bermakna, apa pun hasilnya.” Dan di gang sempit ini, harapan adalah sikap hidup.

BACA JUGA:  Dari Dapur ke Kelas: Belajar Matematika dari Burasa'

Setiap langkah kaki yang mengayuh sandal di tanah berbatu bukan sebatas perjalanan harian. Ia adalah benang-benang kecil yang menyambung asa. Menyambung mimpi-mimpi sederhana: hidup yang lebih tenang, anak-anak yang tetap bisa tertawa, dan hari esok yang layak ditunggu. Tidak megah, tidak heroik, tapi nyata.

Di sinilah harapan dijahit di sela lelah, di ruang sempit, di antara keterbatasan. Ia dijahit dengan kejujuran mengakui letih, dengan keberanian tetap berharap, dan dengan cinta yang diwujudkan lewat berbagi. seperti yang pernah diingatkan Gus Dur, “Kemanusiaan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar kepedulian kita.”

Dan lorong-lorong sempit ini mengajarkan satu hal sederhana yaitu berbagi bukan soal apa yang dimiliki, melainkan bagaimana kehadiran dihadirkan.
Sebab berbagi itu cinta dan cinta selalu menemukan jalannya, bahkan di sela lelah dan keterbatasan.