DAKWAH KEJI: Ketika Lisan yang Seharusnya Menyejukkan Justru Melukai

Makassar, NusantaraInsight — Awalnya, saya ingin memberi tulisan ini judul “Dakwah yang Menyejukkan”. Namun, setelah dipikir-pikir, mungkin judul tersebut kurang menarik perhatian dibandingkan judul yang saya pilih sekarang: “Dakwah Keji”. Hehehe.

Mengapa? Karena belakangan ini, kata-kata yang bernuansa antagonis, kontroversial, bahkan sedikit provokatif, tampaknya lebih mudah menarik perhatian pembaca. Judul yang mengundang rasa penasaran sering kali lebih cepat diklik daripada judul yang menawarkan kesejukan.

Tentu saja, dakwah juga perlu mengikuti perkembangan zaman, termasuk berani menggunakan pendekatan komunikasi yang menarik perhatian. Tidak ada salahnya menggunakan judul yang sedikit provokatif, selama isi dan pesan yang disampaikan tetap santun, mencerahkan, serta menyejukkan hati. Boleh saja judulnya terasa keras, tetapi isinya harus tetap membawa kesejukan.

Jangan sampai ruang dakwah di media sosial justru didominasi oleh para content creator yang menjadikan agama sebagai alat mencari sensasi dan popularitas. Apalagi jika aktivitas mereka lebih banyak diisi dengan menghina, menghujat, merendahkan, bahkan menyerang para pendakwah dan ulama besar yang selama ini telah memberikan kontribusi dalam membimbing umat.

BACA JUGA:  Janjian Bertemu di Warkop

Dakwah bukan ajang adu popularitas, bukan pula panggung untuk mempertontonkan siapa yang paling keras suaranya atau paling tajam hujatannya. Apalagi menjadikan penghinaan terhadap sesama pendakwah sebagai cara untuk mendapatkan perhatian publik.

Saya tidak perlu menyebutkan nama atau menunjuk siapa pun secara khusus. Biarlah fenomena yang belakangan viral di media sosial menjadi bahan refleksi kita bersama. Mungkin pembaca sudah bisa menebak fenomena apa dan siapa yang sedang menjadi perhatian dalam tulisan ini.

Namun, tulisan ini bukan untuk menghakimi seseorang atau kelompok tertentu. Ini adalah ajakan untuk melakukan introspeksi: sudahkah dakwah kita benar-benar mencerminkan akhlak Rasulullah SAW?

Sebab, tujuan dakwah bukan sekadar membuat orang tertarik untuk menonton, tetapi mengajak manusia menjadi lebih baik.

Namun, ada sebuah ironi yang semakin sering kita jumpai. Sebagian orang yang tampil sebagai pendakwah justru menggunakan lisannya untuk menghujat, memfitnah, merendahkan, memprovokasi, bahkan menebarkan kebencian. Mimbar yang seharusnya menjadi tempat menyampaikan hikmah berubah menjadi panggung untuk menyerang orang lain. Ayat-ayat suci yang semestinya menjadi petunjuk kehidupan terkadang dipakai sebagai pembenaran untuk menghakimi sesama.

BACA JUGA:  IDUL QURBAN, KORUPSI DAN ARSIP

Inilah yang patut kita renungkan: ketika dakwah kehilangan kasih sayang, ketika nasihat berubah menjadi cacian, dan ketika seruan kebenaran justru melahirkan permusuhan. Bukankah itu sebuah ironi dalam kehidupan beragama?

 

*Dakwah bukan panggung untuk melampiaskan kebencian*

Rasulullah SAW diutus bukan untuk mencaci manusia, melainkan membawa rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Ayat ini memberikan pesan mendalam bahwa misi utama risalah Islam adalah menghadirkan rahmat. Maka, orang yang mengaku mengikuti ajaran Rasulullah semestinya berusaha menghadirkan rahmat pula melalui perkataan, sikap, dan perbuatannya.

Dakwah tidak boleh kehilangan ruh kasih sayang.

Allah SWT bahkan memberikan pedoman yang sangat indah dalam Surah An-Nahl ayat 125:

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”