Allah SWT telah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar orang-orang beriman memeriksa dan meneliti berita yang datang, supaya tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan.
Maka, bagaimana mungkin seseorang mengaku sedang berdakwah, tetapi justru mengabaikan perintah untuk melakukan tabayyun?
Bagaimana mungkin seseorang mengajak manusia berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak berhati-hati dalam menyampaikan informasi?
Pada akhirnya, dakwah harus dikembalikan kepada tujuan utamanya: mengajak manusia semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari sesamanya.
Kita membutuhkan pendakwah yang menyejukkan, bukan yang memanaskan suasana. Kita membutuhkan ulama yang membimbing, bukan yang gemar menghakimi. Kita membutuhkan guru yang mengajarkan adab, bukan yang mempertontonkan amarah. Kita membutuhkan orang-orang berilmu yang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.
Sebab, ukuran keberhasilan dakwah bukanlah seberapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan dalam perdebatan, melainkan seberapa banyak hati yang tersentuh untuk memperbaiki diri.
Jangan sampai kita begitu sibuk menunjukkan kesalahan orang lain, tetapi lupa memperbaiki kekurangan diri sendiri.
Jangan sampai kita begitu bersemangat mengajak orang lain masuk surga, tetapi lupa menjaga lisan agar tidak menyakiti sesama.
Dan jangan sampai kita merasa sedang membela agama, padahal yang sedang kita pertahankan hanyalah ego, kemarahan, dan kebencian pribadi.
*Ketika Mengaku Paling Benar, tetapi Jauh dari Akhlak Rasulullah*
Ada pula fenomena yang patut menjadi bahan introspeksi di tengah kehidupan umat Islam. Sebagian golongan merasa bahwa kelompoknyalah yang paling benar, paling memahami agama, dan paling dekat dengan tuntunan Rasulullah SAW. Mereka begitu mudah menilai kelompok lain, bahkan terkadang menganggap praktik keagamaan yang berbeda sebagai sesuatu yang keliru. Bahkan terlalu berlebihan menghina ulama-ulama besar yang sudah terbukti keilmuannya dengan Bahasa “ Setan-setan bisu,” Nauzubillah.
Ironisnya, sebagian dari mereka justru mengakui bahwa merekalah kelompok yang istiqamah dalam mempraktikkan sunnah Rasulullah SAW. Namun, ketika berbicara, menyampaikan kritik, atau menghadapi perbedaan pendapat, perilaku dan perkataannya terkadang justru berlawanan dengan akhlak Rasulullah yang mereka jadikan panutan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara memahami sunnah dan menghidupkan akhlak Rasulullah. Mengikuti sunnah bukan hanya soal penampilan, tata cara ibadah, atau simbol-simbol keagamaan. Lebih dari itu, sunnah juga harus tercermin dalam kejujuran, kelembutan, kesabaran, kasih sayang, kerendahan hati, serta kemampuan menjaga lisan.
Jangan sampai seseorang begitu bersemangat mengajak orang lain mengikuti sunnah, tetapi lupa meneladani bagaimana Rasulullah memperlakukan orang yang berbeda pendapat dengannya.
Rasulullah SAW tidak mengajarkan umatnya untuk membangun kesombongan kelompok. Beliau mengajarkan persaudaraan, menghormati sesama, dan menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Bahkan, terhadap orang yang berlaku kasar sekalipun, Rasulullah menunjukkan kelembutan dan kebijaksanaan.
Maka, jangan menjadikan kelompok sebagai ukuran tunggal kebenaran, apalagi menjadikan identitas kelompok sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Kebenaran harus diukur dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sementara kualitas keberagamaan seseorang juga tercermin dari akhlak dan perilakunya.
Jika ada oknum yang mengaku pendakwah mau mencoba tampil di medsos dengan gaya arogan, mari kita sama-sama tenggelamkan agar tidak viral dengan cara tak mendiamkan, tidak membaca atau menonton unggahannya, dan tidak ikut menshare, dengan begitu dia kehilangan peluang menjadi terkenal. Sederhana dan tanpa kekerasan.












