By Rahman Rumaday
_(Guru Mengaji Lorong)_
Ketika Sebuah Pedang Kembali Bercerita
_Tentang kunjungan yang tak terduga, mahar yang tersisa, dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi._
Makassar, NusantaraInsight — Ada orang yang datang membawa jabatan. Ada yang datang membawa kepentingan. Tetapi ada pula orang yang datang tanpa kita tahu apa maksud kedatangannya, lalu kehadirannya justru membuka kembali pintu-pintu kenangan yang selama ini kita biarkan tertutup rapat.
Begitulah hidup. Kadang-kadang, sesuatu yang paling menyentuh hati tidak datang melalui undangan resmi, tidak pula melalui pertemuan yang direncanakan. Ia datang begitu saja. Mengetuk pintu rumah kita, duduk di ruang tamu yang sederhana, lalu tanpa sengaja membawa kita berjalan jauh ke masa lalu.
Sabtu, 17 Oktober 2026, menjadi salah satu hari yang akan saya simpan baik-baik dalam ingatan.
Bukan karena hari itu saya menghadiri acara besar. Bukan pula karena saya bertemu banyak orang penting. Justru karena pada hari itu, rumah sederhana saya di sebuah lorong buntu di Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, kedatangan seorang tamu yang sama sekali tidak saya duga.
Beliau adalah Bapak Mallarangang Tutu, seorang tokoh dari kabupaten Takalar yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari dapil Gowa – Takalar. Bagi sebagian orang, kedatangan seorang anggota dewan mungkin hal biasa. Tetapi bagi saya, yang sehari-hari hanya menjalani kehidupan sebagai seorang guru mengaji lorong, kunjungan itu menghadirkan rasa yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata.
*Saya ini siapa?*
Hanya seorang guru mengaji lorong yang rumahnya berada di ujung lorong. Bukan rumah besar dengan halaman luas, bukan pula tempat yang biasa dikunjungi orang-orang penting. Saya hanya menjalani kehidupan seperti kebanyakan orang, berusaha menjaga mengabdi sesuai kemampuan yang saya miliki, mengajar anak-anak mengaji, mengajar ibu-ibu mengaji, menemani warga belajar, dan sesekali duduk di warung kopi, menikmati percakapan sederhana tentang kehidupan.
Namun, bukankah hidup sering mengajarkan bahwa kemuliaan sebuah pertemuan tidak ditentukan oleh besar kecilnya rumah, melainkan oleh ketulusan orang-orang yang ada di dalamnya?
Pagi itu, sekitar pukul enam, saya sudah meninggalkan rumah menuju sebuah majelis ilmu di daerah Antang. Saya berada di sana sampai sekitar pukul 09.30. Setelah selesai, saya langsung menuju Tabaria, Kelurahan Bonto Duri, Kecamatan Tamalate, untuk memenuhi permintaan salah seorang ibu binaan.
Anaknya baru menempati rumah baru. Mereka meminta saya datang untuk membacakan doa dalam acara sederhana itu.
Sejujurnya, sehari sebelumnya ibu tersebut sudah datang ke rumah untuk menyampaikan permintaannya. Saya sempat menolak dengan halus.
“Maaf, Bu. Saya ini bukan pembaca doa. Saya hanya guru mengaji.”
Begitulah kira-kira jawaban saya waktu itu.
Tetapi ibu itu tetap berharap. Katanya, anaknya bersama suaminya memang meminta saya sendiri yang mendoakan rumah baru mereka.
Akhirnya, saya mengalah. Bukan karena merasa diri pantas, tetapi karena terkadang ada permintaan yang tidak perlu dijawab dengan banyak alasan. Selama niatnya baik dan kita bisa membantu, mengapa harus mempersulit?
Selesai membacakan doa, saya berpamitan dan kembali ke rumah. Rencananya sederhana saja yaitu pulang, berganti pakaian, kemudian pergi ke warung kopi.
Tidak ada agenda besar. Tidak ada janji dengan siapa pun.
Saya pikir, hari itu akan berjalan sebagaimana hari-hari biasanya.
Tetapi rupanya, hidup sudah menyiapkan cerita lain.












