Baru saja tiba di rumah, bahkan belum sempat berganti pakaian, telepon genggam saya berbunyi.
Saya melihat layar. Nama yang muncul membuat saya sedikit terkejut.
Bapak Mallarangang Tutu.
Saya segera mengangkat telepon.
_”Assalamualaikum. Posisi di mana? Bisa kirim lokasi rumah? Ada paket dari Papua mau dikirim,”_ katanya dari seberang telepon, dengan nada bercanda.
Mendengar ucapan itu, saya langsung tertawa.
_”Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hahaha… Iye’, Ust. Saya di rumah. Baru pulang dari luar.”_
Beliau tertawa kecil. Lalu berkata bahwa dirinya sedang berada di sekitar wilayah saya dan ingin mampir ke rumah.
_”Saya tunggu lokasi ta’, ya. Saya lagi ada di sekitar sini. Mau merapat ke rumah ta’.”_
‘Iye’, Ust,” jawab saya.
Telepon ditutup.
Saya masih sempat berpikir, benarkah beliau mau datang?
Belum sempat saya mengirimkan lokasi rumah, telepon kembali berbunyi. Kali ini dari pak Amru, sopir beliau. Kebetulan, saya juga sudah mengenalnya.
“Kami sudah di depan kantor lurah. Saya lupa lorong ta’ yang mana,” katanya.
Saya pun segera keluar rumah. Sambil menerima telepon, saya berjalan menuju mulut lorong untuk mengarahkan mereka. Saya juga meminta izin kepada salah seorang warga agar mobil beliau bisa diparkir di halaman rumahnya.
Tidak lama kemudian, dari ujung lorong, tampak sebuah mobil merah mulai bergerak mendekat.
Saya berdiri agak jauh, memberi isyarat agar mobil terus maju mengikuti arah yang saya tunjukkan.
Mobil itu perlahan masuk ke lorong. Jalan yang tidak begitu lebar itu akhirnya mengantarkan seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan ke halaman rumah warga, tidak jauh dari rumah saya.
Setelah mobil terparkir, saya menyambut beliau dan mengajaknya berjalan kaki menuju rumah.
Begitulah cara tamu saya hari itu tiba. Tidak ada karpet merah, tidak ada penyambutan khusus. Hanya lorong sederhana, rumah-rumah warga, dan beberapa langkah kaki yang membawa kami menuju ruang tamu.
Saya justru menyukai kesederhanaan seperti itu.
Sebab, jabatan seseorang mungkin membuat namanya dikenal banyak orang, tetapi cara ia memperlakukan manusia lainlah yang membuat kehadirannya terasa dekat.
Kami duduk dan mulai bercerita.
Belum sampai lima menit, tiba-tiba Ust Malla menanyakan sesuatu yang membuat percakapan kami berubah arah.
_”Bagaimana mahar yang dulu diminta almarhumah istri ta’?”_
Saya terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
_”Tidak banyak yang masih tersisa, Ust.”_
Saya kemudian masuk ke kamar untuk mengambil sebuah pedang. Pedang itulah mahar utama yang pernah diminta oleh almarhumah istri saya dahulu.
Setelah itu, saya menuju rak buku dan mengambil dua jilid Riyadhus Shalihin edisi lama yang juga menjadi bagian dari mahar pernikahan kami.
Saya meletakkan semuanya di hadapan beliau.
_”Ini pedangnya masih ada, Ust. Ini juga buku Riyadhus Shalihin jilid satu dan dua. Masih saya simpan.”
Lalu saya bercerita tentang mahar-mahar lainnya.
Ada kain kafan yang dahulu menjadi bagian dari mahar itu. Ketika istri saya meninggal dunia, kain kafan tersebut akhirnya digunakan untuk membungkus jasadnya.
Ada cincin yang kemudian ia sumbangkan untuk Palestina dalam sebuah konser kemanusiaan di Universitas Hasanuddin.
Ada pula Al-Qur’an yang diambil oleh kakak ipar.
Saya menceritakannya dengan tenang. Tidak sedang berusaha membuat siapa pun terharu. Saya hanya sedang mengisahkan bagian dari perjalanan hidup yang pernah saya lalui bersama seseorang yang kini telah lebih dahulu berpulang.
Tetapi anehnya, ada cerita yang ketika diucapkan terdengar sederhana, padahal ketika dikenang, ia menyimpan begitu banyak rasa.












