Mahar, bagi sebagian orang, mungkin hanya benda yang diberikan ketika pernikahan berlangsung. Sesuatu yang dicatat, diserahkan, lalu disimpan di lemari atau kotak kenangan.
Namun, bagi saya, mahar-mahar itu bukan sebatas benda.
Di dalamnya ada percakapan lama. Ada permintaan seorang perempuan yang pernah menjadi teman hidup saya. Ada janji yang pernah kami bangun bersama. Ada hari-hari yang telah berlalu, ada tawa yang tidak bisa diulang, dan ada kehilangan yang pada akhirnya harus saya terima sebagai bagian dari *ketentuan Allah.*
Waktu boleh berjalan, tetapi tidak semua yang ditinggalkannya benar-benar pergi.
Ada yang menjelma kenangan. Ada yang berubah menjadi doa. Ada pula yang tetap tinggal dalam bentuk benda-benda sederhana, menunggu suatu hari disentuh kembali agar kita ingat bahwa kita pernah begitu dekat dengan seseorang yang kini hanya *bisa kita temui dalam ingatan.*
*Dan hari itu, pedang itulah yang kembali mempertemukan saya dengan sebagian dari masa lalu.*
Ust. Malla mengambil pedang tersebut.
Perlahan, beliau mencabutnya dari sarungnya.
Saya memperhatikan gerakannya.
Pedang itu keluar dari sarung setelah sekian lama tersimpan. Selama bertahun-tahun, saya tidak pernah melihatnya dikeluarkan seperti itu. Ia hanya diam di tempatnya, menjadi salah satu benda yang saya simpan bersama kenangan tentang almarhumah istri saya.
Namun, hari itu berbeda.
Ust. Malla memegangnya, memandangnya, lalu mencium pedang tersebut.
Saya yang melihatnya mendadak merasakan sesuatu yang sulit diterangkan.
Ada rasa haru yang datang begitu saja. Seperti ada sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menyentuh bagian hati yang selama ini berusaha saya jaga agar tetap tenang.
Saya melihat wajah Ust Malla. Dari rautnya, saya menangkap kesan bahwa beliau juga sedang menahan haru.
Kami tidak banyak bicara pada saat itu.
Dan mungkin memang tidak semua perasaan harus diterjemahkan menjadi kalimat. Ada momen ketika manusia cukup saling memandang, membiarkan keheningan mengambil alih percakapan, sebab kata-kata justru terasa terlalu kecil untuk menampung apa yang sedang dirasakan.
Saya pun bertanya-tanya dalam hati.
Mengapa Ust Malla tiba-tiba datang ke rumah? Mengapa beliau ingin melihat mahar pedang ini? Ada apa sebenarnya?
Saya tidak tahu jawabannya.
Yang saya tahu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pedang itu keluar dari sarungnya di tangan orang lain.
Dan pemandangan itu membuat saya berpikir tentang sesuatu yang lebih jauh daripada sebatas sebilah pedang.
Bukankah hidup kita juga seperti itu?
Ada bagian dari diri kita yang bertahun-tahun kita simpan rapat-rapat. Bukan karena kita ingin melupakannya, tetapi karena ada kenangan yang terlalu dalam untuk dibicarakan setiap hari. Ada kehilangan yang tidak perlu diumumkan kepada dunia. Ada kesedihan yang tetap kita bawa sambil menjalani kehidupan, bekerja, bercanda, mengajar anak-anak mengaji, mengajar ibu-ibu mengaji dan duduk bersama orang-orang di warung kopi.
Kita tampak baik-baik saja. Kita tetap tertawa. Kita tetap menyapa orang lain seolah tidak ada sesuatu yang tertinggal di belakang.
Padahal, jauh di dalam diri, ada ruang yang tidak pernah benar-benar kosong.
Ruang itu hanya kita tutup agar kita bisa melanjutkan hidup.
Seperti pedang yang lama berada di dalam sarungnya.
Ia tidak kehilangan bentuknya hanya karena tidak terlihat. Ia tidak kehilangan sejarahnya hanya karena tidak lagi disentuh. Ia tetap menyimpan cerita, meskipun orang-orang yang mengetahui seluruh kisahnya mungkin tidak lagi berada di dekat kita.
Lalu, suatu hari, seseorang datang dan mengeluarkannya dari sarung.












