MAKIN TUA MAKIN PERJAKA

Hadiah Satu Dekade PERJAKA Bukit Baruga

Oleh Aslam Katutu

Makassar, NusantaraInsight — Ada banyak cara untuk merayakan perjalanan waktu. Ada yang merayakannya dengan pesta, makan bersama, atau sekadar meniup lilin. Namun, bagi keluarga besar PERJAKA Bukit Baruga, satu dekade perjalanan dirayakan dengan cara yang lebih bermakna: berjalan kaki, menjaga kesehatan, merawat persaudaraan, dan mengabadikan cerita dalam sebuah buku.

Saya sengaja menulis Buku Makin Tua Makin Perjaka hadir sebagai hadiah untuk perjalanan sepuluh tahun PERJAKA—Persatuan Pejalan Kaki Bukit Baruga Makassar. Sebuah komunitas yang tumbuh dari kebiasaan sederhana: berkumpul pada pagi hari, berjalan bersama, menjaga kesehatan, dan menikmati indahnya kebersamaan. Buku ini melengkapi Buku berjudul MEMBERSAMAI PERJAKA karya Dr.dr.Abdul Rahman Rauf.,Sp.OG.Supsp.Obginsos sebagai Dewan Syuro PerJaka.

Pagi yang Menjadi Cerita

Pagi PERJAKA memiliki suasana yang khas.

Ketika sebagian besar orang masih terlelap, kawasan Bukit Baruga perlahan mulai terbangun. Udara pagi terasa sejuk. Langit yang semula gelap perlahan berubah warna. Embun masih menempel di dedaunan. Jalan-jalan yang masih lengang menjadi saksi datangnya satu per satu anggota PERJAKA.

BACA JUGA:  Syahril Patakaki Merawat Makassar Lewat Sanja’ Mangkasara

Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas. Ada suara burung, suara langkah kaki, dan suara sapaan yang mulai bersahutan.

“Sudah datang?”

“Sehat?”

“Ayo, kita jalan!”

Sapaan sederhana itu menjadi pembuka sebuah pagi.

Satu per satu anggota berkumpul dengan pakaian olahraga masing-masing. Ada yang datang lebih awal, ada yang sedikit terlambat. Ada yang langsung siap berjalan, ada pula yang masih sempat bercanda dan berbincang sebelum memulai perjalanan.

Tidak ada suasana kaku.

Yang ada adalah keakraban.

Pagi PERJAKA bukan sekadar waktu untuk berolahraga. Ia telah menjadi ruang sosial, tempat orang-orang bertemu, bertukar kabar, tertawa bersama, dan saling menguatkan.

Ketika langkah pertama dimulai, suasana pagi terasa semakin hidup.

Langkah kaki bergerak beriringan. Ada yang berjalan cepat, ada yang santai. Ada yang memilih berada di depan, ada yang nyaman di tengah, dan ada pula yang berjalan paling belakang sambil menikmati percakapan.

Namun, semuanya memiliki satu tujuan: menikmati perjalanan bersama.

Matahari kemudian perlahan muncul dari ufuk. Sinar keemasannya menyentuh pepohonan, rumah-rumah dan jalan yang mereka lalui. Keringat mulai muncul, tetapi senyum tetap mengembang.

BACA JUGA:  Hilidan: Ketika Persaudaraan Menjadi Rumah

Bagi anggota PERJAKA, keringat pagi bukan sesuatu yang harus dikeluhkan.

Ia justru menjadi tanda bahwa tubuh masih bergerak. Bahwa kaki masih kuat. Bahwa paru-paru masih bekerja. Bahwa hari baru kembali diberikan.

Di tengah perjalanan, sering kali muncul cerita-cerita kecil yang justru menjadi kenangan besar. Ada yang membicarakan keluarga, pekerjaan, olahraga, makanan, perjalanan, bahkan persoalan sehari-hari.

Ada pula candaan yang hanya dimengerti oleh sesama anggota.

Tawa pecah di antara langkah-langkah kaki.

Begitulah pagi PERJAKA.

Sehatnya dapat, silaturahminya dapat, bahagianya juga dapat.

Sepuluh Tahun yang Patut Disyukuri

Sepuluh tahun perjalanan membuktikan bahwa kebiasaan sederhana dapat melahirkan sesuatu yang luar biasa.

Dari pagi-pagi yang awalnya mungkin hanya diisi beberapa orang, kemudian tumbuh menjadi sebuah komunitas. Dari langkah-langkah kecil lahir persahabatan. Dari persahabatan tumbuh persaudaraan. Dari persaudaraan muncul kepedulian.

PERJAKA mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus dijalani dengan berlari.

Ada saatnya kita berjalan perlahan, menikmati udara pagi, melihat matahari terbit, menyapa orang yang kita jumpai, berbincang dengan sahabat, dan mensyukuri kesempatan yang masih diberikan Allah untuk menikmati kehidupan.