Begal, Geng Motor Makin Brutal. Apa Yang Kamu Cari ?

Oleh Aslam Katutu

Makassar, NusantaraInsight — Miris melihat tingkah laku sebagian anak muda belakangan ini. Kenakalan yang semakin berani, aksi kekerasan di jalanan, hingga ulah geng motor yang terlibat dalam pertikaian, telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Yang lebih memprihatinkan, aksi brutal tersebut kembali memakan korban jiwa. Pada dini hari, 4 Oktober 2026, seorang mahasiswa tewas dalam insiden pertikaian geng motor di kawasan Persimpangan Lima, dekat Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Satu nyawa melayang. Satu keluarga kehilangan anak yang dicintainya. Masa depan seorang anak muda terhenti hanya karena kekerasan di jalanan.

Pertanyaannya kemudian: sebenarnya apa yang sedang mereka cari?

Malam seharusnya menjadi waktu bagi manusia untuk beristirahat. Jalanan perlahan lengang, lampu-lampu kota menjadi penerang, sementara orang-orang pulang menuju rumah dan keluarga. Tetapi bagi sebagian warga, malam justru berubah menjadi waktu yang menakutkan. Begal berkeliaran. Geng motor bergerombol. Jalan yang seharusnya menjadi ruang bersama berubah menjadi tempat yang membuat orang waswas.

Wahai anak-anak muda yang bergerombol di atas sepeda motor, apa yang sebenarnya ingin kalian buktikan? Keberanian? Kekuasaan? Pengakuan? Atau sekadar ingin dianggap hebat oleh teman-teman?

BACA JUGA:  Catatan Perjalanan (Kearsipan) (1): 1200 mdpl

Jika yang dicari adalah keberanian, mengapa harus ditunjukkan dengan mengancam orang yang tidak berdaya?

Jika yang dicari adalah kebebasan, mengapa kebebasan itu harus merampas rasa aman orang lain?

Jika yang dicari adalah penghormatan, mengapa jalan yang ditempuh justru membuat masyarakat takut?

Dan jika yang dicari adalah kebahagiaan, apakah kebahagiaan itu benar-benar lahir dari membuat orang lain menangis?

Begal bukan sekadar persoalan kriminalitas. Geng motor yang brutal bukan hanya persoalan anak muda yang salah pergaulan. Di balik tindakan tersebut sering terdapat persoalan yang lebih besar: keluarga yang kehilangan perhatian, lingkungan yang gagal membimbing, pendidikan karakter yang tidak berjalan, pergaulan yang salah, serta kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.

Seorang remaja mungkin merasa gagah ketika berkendara beramai-ramai di tengah malam. Ia merasa ditakuti ketika orang lain memilih menghindar. Tetapi rasa takut bukanlah penghormatan. Orang yang ditakuti belum tentu dihormati.

Kehebatan seorang laki-laki bukan diukur dari seberapa banyak orang yang mampu dibuatnya takut. Kehebatan justru terlihat dari seberapa banyak orang yang merasa aman ketika berada di dekatnya.

BACA JUGA:  Sinergitas Buruh, Pendidikan, dan Arsip: Sokong Kebangkitan Bangsa, Membangun Peradaban (Ingatan Mei)

Maka, sebelum gas motor ditarik, sebelum senjata atau senjata tajam dikeluarkan, sebelum seseorang dipukul, dilukai atau dirampas hartanya, berhentilah sejenak. Tanyakan kepada diri sendiri: setelah semua ini selesai, saya akan menjadi manusia seperti apa?

Motor bisa membawa kita ke mana saja. Tetapi arah perjalanan ditentukan oleh pengemudinya.

Jangan biarkan masa muda habis di jalanan, berhadapan dengan polisi, pengadilan, bahkan penjara. Jangan sampai orang tua yang membesarkan dengan susah payah hanya menerima kabar bahwa anaknya ditangkap karena begal atau tawuran.

Kota ini membutuhkan anak muda yang berani, tetapi keberanian yang digunakan untuk berkarya. Membuka usaha. Berolahraga. Menolong sesama. Menjaga lingkungan. Belajar teknologi. Mengembangkan kreativitas. Menghidupkan masjid. Menguatkan persaudaraan.

Itulah keberanian yang sesungguhnya.

Kepada para orang tua, jangan hanya bertanya kepada anak, “Kamu pergi ke mana?” Tanyakan pula, “Dengan siapa kamu bergaul? Apa yang kamu lakukan? Apa cita-citamu? Apa yang sedang kamu perjuangkan?”