Hilidan: Ketika Persaudaraan Menjadi Rumah

By : Rahman Rumaday

Makassar, NusantaraInsight — Ada persaudaraan yang lahir dari darah. Tetapi ada pula persaudaraan yang lahir dari perjumpaan, dari kebersamaan yang terus dirawat, dari hari-hari yang dilalui bersama hingga akhirnya kita tidak lagi mampu membedakan mana saudara karena darah dan mana saudara karena hati.

Di situlah saya belajar tentang hilidan.

Hilidan, yes!
Himongi, no!

Persaudaraan di atas segalanya.

Tidak boleh ada sekat hati. Tidak boleh ada sekat pikiran yang membuat kita mengotakkan manusia hanya karena berbeda latar belakang, berbeda daerah, berbeda pengalaman, atau berbeda jalan hidup.

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” ~ Al-Hujurat : 13

Sebab ketika hati telah bertemu, jarak tidak lagi menjadi ukuran.

Balan pena,
gatar peda.
Angkat pena-mu,
patahkan parang.

BACA JUGA:  Hanya Guru Mengaji di Lorong

Angkat pena untuk menulis kebaikan. Angkat pena untuk merawat ingatan. Angkat pena untuk menyambungkan hati. Sebab sering kali, satu kata yang baik mampu membangun jembatan yang tidak mampu dibangun oleh kekuatan apa pun.

Kamis, 20 Agustus 2026, saya hadir di Hotel Dalton Makassar mendampingi salah seorang adik dari kampung, Fikram Lahmadi, dalam momentum wisuda Sarjana Keperawatan Universitas Islam Makassar (UIM).

Saya hadir bukan sebatas sebagai tamu.

Saya hadir sebagai wali.

Sebagai abang.

Dan, dalam batas yang Tuhan izinkan, sebagai orang tua bagi seorang adik yang bersama sejumlah adik-adik dari kampung yang memilih kota Makassar sebagai tempat menimba ilmu dan menjemput masa depan.

Hari itu, acara demi acara seremoni berjalan.

Satu prosesi selesai, disusul prosesi berikutnya.

Sampai akhirnya tiba pada acara yang paling ditunggu yaitu penyerahan ijazah.

Nama-nama dipanggil secara bergantian dari fakultas ke fakultas.

Satu per satu mahasiswa naik ke atas panggung.

Sampai akhirnya tiba giliran Fakultas Kesehatan Masyarakat, Jurusan Keperawatan.

BACA JUGA:  Bersepeda Ala Komunitas KassaKi Kelurahan Karampuang, Makassar, Bukan Sekadar Berolahraga

Nama Fikram Lahmadi dipanggil bersama teman-temannya.

Mereka naik ke panggung secara bergantian.

Ijazah diterima secara simbolis.

Lalu tali toga dipindahkan sebagai bagian dari tradisi wisuda, sebuah simbol bahwa perjalanan akademik telah sampai pada satu titik penting dan perjalanan berikutnya segera dimulai.

Saya menyaksikan dari tempat duduk.

Mata saya mengikuti langkah Fikram.