Hilidan: Ketika Persaudaraan Menjadi Rumah

Tetapi berapa banyak hati yang pernah kita rangkul, berapa banyak langkah yang pernah kita dampingi, dan berapa banyak saudara yang merasa bahwa dirinya tidak pernah berjalan sendirian.

Hilidan, yes!
Himongi, no!

Rawat persaudaraan.

Jangan biarkan sekat-sekat kecil membuat kita lupa bahwa kita pernah duduk bersama, tertawa bersama, bekerja bersama, berjuang bersama, bahkan menangis bersama.

Karena persaudaraan yang sesungguhnya tidak selalu berbicara dengan kata-kata.

Kadang ia berbicara melalui kehadiran.

Kadang melalui sepiring makanan.

Kadang melalui tangan yang membantu.

Kadang melalui sebuah pesan singkat di tengah prosesi wisuda.

Dan kadang-kadang, ia hanya berbisik pelan di dalam hati:

‘Ale rasa, beta rasa.”

Selamat atas wisudamu, Fikram Lahmadi.

Hari ini engkau menerima ijazah.

Hari ini tali togamu dipindahkan.

Tetapi sesungguhnya, hari ini bukan akhir dari perjalanan.

Ini adalah awal dari pengabdian.

Semoga ilmu Keperawatan yang engkau bawa bukan hanya membuatmu mampu merawat tubuh manusia, tetapi juga mengajarkanmu untuk merawat kemanusiaan.

Dan semoga dari alam akhirat sana, Umi-mu tersenyum dan bahagia melihatmu hari ini.

BACA JUGA:  Meretas Asa Penyelesaian Skripsi Lewat Kepedulian BAZNAS Kota Makassar

Teruslah melangkah, Adinda.

Jadilah manusia yang ilmunya bermanfaat, langkahnya membawa kebaikan, dan keberadaannya selalu menjadi alasan bagi orang lain untuk percaya bahwa persaudaraan masih punya tempat di dunia ini.

Balan pena.
Gatar peda.

Angkat pena.

Patahkan parang.

Sebab dunia tidak membutuhkan lebih banyak sekat.

Dunia membutuhkan lebih banyak saudara.

PT, 23/8/2026