CINTA TIDAK PERNAH TUNDUK PADA KALENDER, TANGGAL 4 SUDAH LEWAT MASIH ADA PERAYAAN

By : Rahman Rumaday

Makassar, NusantaraInsight — Ada orang yang merayakan ulang tahun tepat pada tanggalnya. Lilin dinyalakan, doa dipanjatkan, lalu hidup berjalan seperti biasa.

Tapi ada juga ulang tahun yang datang terlambat-bukan karena orang lupa, melainkan karena kasih sayang selalu menemukan waktunya sendiri.

Dan saya belajar, cinta tidak pernah tunduk pada kalender.

Sudah lewat tanggal 4 Agustus.

Saya bahkan tidak lagi memikirkan hari lahir itu. Kesibukan membuat hari-hari berlari begitu cepat. Dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.

Hingga Sabtu, 15 Agustus 2026.

Siangnya saya bersilaturahmi dengan guru-guru literasi yang selama ini banyak menemani perjalanan berpikir saya. Kami duduk sederhana di sebuah warkop. Mengobrol tentang buku, kehidupan, dan banyak hal yang selalu membuat jiwa terasa lebih hidup.

Di sela-sela obrolan itu, saya mengirim pesan kepada Bu Suriati, Ketua K-apel yang juga istri Ketua RT 011.

_”Bu Ketua, malam ini ada Pak RT di rumah? Saya ingin silaturahmi ke rumah ta’”_

BACA JUGA:  Mengenal Arpin,S.Pd.,M.Pd Nahkoda PGRI Cabang Ujung Tanah

Tak lama kemudian ibu ketua membalas.

_”Iye’ Pak, ada. Tapi habis Isya saya mau keluar menghadiri acara lomba kemerdekaan di kelurahan.”

Saya menjawab,

_”Baik Bu Ketua. Insya Allah habis Magrib saya ke rumah ta’.”_
_”Iye’, Pak.”_
Sederhana.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang membuat saya curiga.

Menjelang pukul setengah enam sore saya pamit kepada para guru saya; Muhammad Amir Jaya, Anwar Nasyaruddin, Arwan D. Awing, dan Syahril Patah Kaki.

“Saya izin pulang dulu. Habis Magrib ada janji silaturahmi ke rumah Pak RT.”

Ternyata setelah saya berdiri, pertemuan itu pun ikut selesai. Kami saling bersalaman, lalu pulang ke arah masing-masing.

Saya langsung menuju rumah.

Setibanya di rumah tas ransel yang hampir selalu menempel di punggung saya saya letakkan begitu saja di kamar. Mandi sebentar. Lalu berangkat salat Magrib.

Seusai salat, saya langsung menuju rumah Pak RT.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam… iye’ Pak, masuk ki’.”
Suara Bu Ketua terdengar dari dalam rumah. Barangkali bu ketua sudah hafal suara saya.

BACA JUGA:  Obituari Eddie Marzuki Nalapraya “Diselamatkan” dari Tangkapan Intel

Saya masuk.

Ruang tamunya tampak seperti biasa.
Tidak ada sesuatu yang menonjol
Tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu.
“Duduk ki’ Pak.”
“Iye’ Bu ketua.”
“Saya ke belakang dulu.”
“Jangan maki’ repot-repot, Bu. Tidak lama ji ini.”
“Iye’ Pak. Saya panggil dulu Pak RT. Dia lagi baring di sebelah.”
Saya duduk.
Lima menit berlalu.
Bu Ketua kembali muncul.
Saya bahkan sempat ingin pamit.
“Jangan maki’ dulu pulang, Pak.”
“Iye’, Bu… jangan maki’ repot.”
“Tidak ji…”
Semuanya masih tampak biasa.
Sangat biasa.
Hingga tiba-tiba…
Pak RT muncul dari pintu depan.
“Lama maki’, Pak Rahman?”
“Tidak ji, Pak RT. Baru beberapa menit.”
“Duduk-duduk maki’ dulu.”
Belum sempat saya benar-benar duduk kembali…

Dari pintu depan dan pintu tengah bermunculan ibu-ibu.

Ada yang membawa kue.
Ada yang dengan tepuk tangan khas perayaan ulang tahun.
Lalu terdengar nyanyian yang sangat akrab.
“Selamat ulang tahun…”

Dalam hitungan detik, ruang tamu yang tadinya sunyi berubah menjadi penuh tawa.

BACA JUGA:  Mengenang Awal Reformasi 1998 Dari Ruang Rawat Inap Kutonton Presiden Berganti

Di hadapan saya berdiri sebuah kue bertuliskan:
“Selamat Ulang Tahun Pak Guru.”
Meja yang tadi kosong, mendadak penuh oleh aneka kue dan hidangan.
Saya hanya bisa terdiam.
Barulah saya mengerti.

Ternyata sejak tadi Mama Febi sibuk di dapur menyiapkan semuanya. Ibu-ibu yang lain rupanya sudah berkumpul di rumah lain untuk menunggu saya datang.

Semua sudah direncanakan.
Semua disusun begitu rapi.
Dan saya sama sekali tidak tahu.
Di dalam hati saya tersenyum sendiri.
“Wah… bukankah ulang tahun saya sudah lewat? Hari lahir saya tanggal 4 Agustus. Ini sudah tanggal 15.”