Jakarta, NusantaraInsight — Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bersama Korean National Commission for UNESCO (KNCU) membuka UNESCO Memory of the World (MOW) International Training Workshop 2026 bertema “Empowering Documentary Diversity” pada Selasa (13/10/2026) di Gedung ANRI Jakarta.
Kegiatan yang berlangsung hingga 16 Oktober 2026 itu berfokus pada penguatan kapasitas pelestarian, pengelolaan, dan penominasian warisan dokumenter.
Upacara pembukaan dan lecture session dihadiri dan dibuka oleh
Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha dan dihadiri oleh Sekretaris Jenderal KNCU, Dr. Hyun-ik Hong.
Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Yoon Soon-gu.
Kepala ANRI, Dr. Mego Pinandito, M.Eng didampingi oleh Deputi Bidang Penyelamatan, Pelestarian, dan Pelindungan Arsip, Mira Puspitarini , Deputi Bidang Tata Kelola Kearsipan Nasional Andi Abubakar dan Direktur Pelestarian dan Pelindungan Arsip, Eli Ruliawati serta Korea Heritage Service, Huh Min.
Acara ini juga menghadirkan peserta secara daring melalui Zoom Meeting dari posisi tugas masing-masing dari seluruh Indonesia.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara KNCU dan ANRI untuk memperkuat pengelolaan warisan dokumenter Indonesia.
Peran Strategis Arsip
Arsip dipandang bukan sekadar dokumen administratif, melainkan memori kolektif dan bukti autentik perjalanan sejarah bangsa. Penguatan pengelolaan arsip statis dan digitalisasi menjadi bagian penting dalam menjaga warisan sejarah sekaligus memperluas akses publik terhadapnya.
Transformasi tata kelola kearsipan nasional juga perlu didukung pemanfaatan teknologi informasi, penguatan sumber daya manusia, serta sistem manajemen kearsipan yang lebih modern.
Upaya tersebut sejalan dengan langkah ANRI dalam membangun budaya tertib arsip dan mendukung pemerintahan digital.
Warisan dokumenter perlu dikelola bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga untuk diteliti, dipelajari, dan diakses masyarakat.
Keterangan UNESCO dan KNCU
Program Memory of the World UNESCO didirikan pada 1992 untuk melindungi warisan dokumenter dunia dari ancaman hilangnya memori kolektif.
Program ini bertujuan melestarikan dan meningkatkan akses terhadap warisan dokumenter yang mencerminkan kekayaan peradaban serta pengetahuan manusia.
UNESCO menegaskan bahwa warisan dokumenter adalah milik bersama dan harus dilestarikan, dilindungi, serta dapat diakses secara permanen. Warisan tersebut mencakup dokumen tunggal maupun kumpulan dokumen, baik analog maupun digital, yang memiliki nilai penting dan langgeng bagi masyarakat, budaya, negara, atau kemanusiaan.
KNCU mencatat masih terdapat ketimpangan representasi warisan dokumenter dalam Daftar Memory of the World. Sebanyak 109 negara anggota belum memiliki satu pun warisan dokumenter yang terdaftar, sementara lebih dari separuh item yang telah terdaftar berasal dari Eropa.
Oleh karena itu, KNCU membantu negara-negara dengan representasi rendah menyusun nominasi melalui lokakarya bersama pakar internasional.
KNCU juga memberikan advokasi, memperkuat kapasitas lembaga negara berkembang, serta mengembangkan materi terkait warisan dokumenter untuk mendukung pencalonan koleksi ke Daftar Memory of the World.
Dalam konteks Indonesia, kegiatan ini diharapkan melahirkan gagasan baru dalam penyiapan nominasi warisan dokumenter ke Program Memory of the World, sebagaimana pengalaman lokakarya sebelumnya yang melibatkan Indonesia dan Timor Leste.
Harapan bagi Indonesia
Kehadiran Indonesia dalam workshop internasional ini dipandang strategis untuk memperkuat kapasitas lembaga kearsipan, perpustakaan, museum, dan komunitas pelestari memori dalam mengidentifikasi serta menominasikan koleksi bernilai tinggi.












