Seni Menangkap Cahaya Pakarena sebagai Pappasang

Oleh: Rusdin Tompo (Pegiat Literasi, Penikmat Seni, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)_

Makassar, NusantaraInsight — Fotografi adalah profesi, hobi, dan seni bagi Goenawan Monoharto.

Pada setiap lembar foto ia meletakkan tanggung jawab, kesenangan, dan nilai visual yang tak sekadar dilihat tetapi juga dirasakan getaran dan gregetnya.

Lewat fotografi, ia wujudkan imajinasi estetisnya, meramu segala ekspresinya, dan mengeksekusi konsep yang semula tersembunyi dalam logika benaknya.

Maka ketika seorang Goenawan Monoharto memotret, sejatinya ia bukan sedang merekam objek, melainkan menghadirkan karya dari galeri pikirannya.

Itulah mengapa, objek-objeknya—yang secara fisik kita kenali sebagai foto hasil cetakan—merupakan dokumentasi pikiran personal dan, dalam banyak kasus, juga sekaligus merupakan arsip komunal.

Di situ ada mozaik momen, pancarona kenangan, kreativitas menangkap cahaya, dan komposisi yang tak selalu mesti simetris.

Pengalamannya memotret dengan kamera Asahi Pentax K1000, di awal ia merintis profesi sebagai fotografer di media cetak, era 1970-an, membuatnya paham bagaimana ‘mengakali’ cahaya dengan menggunakan teori diafragma, kecepatan, dan Asa.

BACA JUGA:  Membaca Oxygen Poetry Mantra Ardhana: Antara Tubuh, Teknologi, dan Kesadaran Organik

Bukan itu saja, ia juga mesti memahami sensivitas perangkat kamera yang digunakan dengan mengatur cahaya yang masuk ke kamera melalui lensa.

Seperti kata George Eastman (1854-1932), yang menekankan pentingnya cahaya. Pendiri Kodak itu, merupakan penemu film gulung, yang menyebarluaskan fotografi.

Level Goenawan Monoharto terus meningkat.

Dalam beberapa kesempatan ngobrol dengannya, ia mendaku bahwa bisa dengan cepat menguasai situasi, saat pemotretan. Intuisinya penaka mata burung hantu yang punya kemampuan mendeteksi gambar dua kali setengah lebih terang dibanding manusia.

Mungkin kalimat ini dianggap hiperbolis. Namun, yang pasti, ia mahir mengoptimalkan cahaya walau tanpa pengukur cahaya (light meter).

Bayangkan, kala itu, ia memotret tanpa didukung blitz. Hanya kejelian membaca cahaya yang ia andalkan, meskipun dalam kondisi kurang cahaya.

Hanya saja, jujur diakui, beberapa pemotretannya gagal, lantaran kekurangan cahaya ataupun over cahaya.

Keterampilan teknis-filosofis itulah yang tengah ia sampaikan lewat PAKARENA: Insight Light. Bukan soal menari dan sosok penarinya yang ia pamerkan, tetapi aura dan spirit kulturalnya. Sumangakna.

BACA JUGA:  Haji yang Terstruktur

Sebagai fotografer, ia tak bergenit-genit menonjolkan keindahan model, dan tak latah dalam arus perbincangan pentingnya menyelamatkan tradisi.

Ia punya cara dan rekam jejak yang membuktikan bahwa betapa Pakarena ada dalam retina lensanya, bahkan dalam jiwanya yang sirik na pacce—sebagai Grundnorm, sebagaimana diteorikan Hans Kelsen soal hierarki norma (Stufenbaulehre).

PAKARENA: Insight Light merupakan pameran instalasi foto yang menggabungkan fotografi dan seni instalasi.

Ia setup suasana kamar gelap (dark room) dengan safe lamp warna merah bukan untuk bernostalgia menghadirkan laboratorium foto era analog.

Namun, ia hendak mengkonstruksi suasana magis dan kontemplatif dalam proses berkarya, yang tadinya hanya merupakan pengalaman personal dengan segala privilesenya sebagai fotografer. Representasi tari dan penari Pakarena digunakan untuk menjangkau keruangan pesan, bukan sebatas karya foto.

Alih-alih Pakarena dijadikan objek fisik foto, dalam karya seni instalasi foto ini, malah mewujud cahaya narasi yang sublim.

Saya menjadi saksi betapa Goenawan Monoharto begitu gigih mengulik, tekun membaca, dan serius menyelisik tarian klasik Pakarena.

BACA JUGA:  Menjahit Harapan di Sela Lelah

Ia tak berhenti hanya pada pesona gerakannya nan lembut, pada keanggunan penarinya yang penuh adab tata krama membumi, pada makna sakral yang terasa religiositas-spiritualitasna.