Dalam detak waktu, gendang (ganrang) ditabuh rancak berima katto-katto bambu, puik-puik ditiup serupa melodi, dan dalam hitungan genap, gong (dengkang) dipukul sebagai penguat irama.
Musik dan musisi pengiring Pakarena yang maskulin tidak tampak dalam foto-foto Goenawan Monoharto. Hanya penari Pakarena dengan selendang dan kipas yang menghadirkan nuansa feminin ada di sana.
Kipas yang terbuat dari daun Lontar itu, bukan hanya berfungsi sebagai pengusir gerah, dan bukan pula hanya menjadi properti dan elemen aksesoris semata.
Daun Lontar yang punya banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat itu, merupakan simbol keagungan atau kemuliaan, sebagaimana Lontarak pada masyarakat Makassar (Andi Jamilah, 2003). Saya menyebut pohon Lontar sebagai pohon kehidupan dan ilmu pengetahuan.
Sebelum kita mengenal kertas dan buku, serta perangkat digital, lembar-lembar Lontar merupakan wadah untuk mencatat sejarah, karya sastra, silsilah keluarga, ilmu pengetahuan, dan berbagai hal penting lainnya.
Tulisan ini, mau menyampaikan bahwa PAKARENA: Insight Light adalah momen pengingat untuk mengaktualisasikan jiwa Pakarena secara intrinsik dalam kehidupan.
Nilai-nilai filosofisnya yang kuat, jangan sampai sebatas dinikmati sebagai pajangan pameran yang sifatnya temporer, dalam durasi waktu singkat. Cahaya Pakarena yang mewujud karya seni fotografi ini punya tafsir pesan seluas cakrawala, tergantung sudut pandang Anda.
Dan di situlah pappasang-nya, hadir tidak dalam teks nasihat, tetapi dalam narasi budaya yang terbingkai dalam karya seni fotografi nan apik estetik. (*)












