Seni Menangkap Cahaya Pakarena sebagai Pappasang

Ia bukan saja tertarik untuk mengabadikan pertunjukannya yang menyiratkan kesopanan, kesetiaan, dan kehidupan perempuan Makassar yang menjaga norma.

Sesungguhnya, ia menangkap cahaya, jiwa, dan hakikat Pakarena itu sendiri. Ia menangkarnya dengan cahaya dari matahari, dari pendar rembulan, dari terang lampu LED, dari nyala obor kecil (kanjolik), dan dari api mata-batinnya.

Goenawan Monoharto memotret Pakarena, serupa Daeng Pamatte menulis sejarah Kerajaan Gowa-Tallo dengan Lontarak Bilang pada abad ke-16.

Ada dedikasi, panggilan profesi, dan semangat literasi yang mengingatkan kita untuk mengabadikan dan mengabdikan keahlian kita pada sesuatu yang bermakna. Dari situ ia hendak menegaskan pesan, supaya Pakarena tetap bercahaya sebagai seni agung, sebagai nilai luhur, sebagai pappasang (pesan-pesan atau nasihat).

Mitos Pakarena terkait erat dengan keberadaannya sebagai perangkat kebesaran Tu Manurung, disimbolkan sebagai perempuan yang sangat cantik dan bijaksana (Nurlina Sjahrir, 2014).

Pakarena yang semula merupakan perangkat milik istana kemudian berkembang menjadi milik Anrong Guru yang penghadirannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pendukungnya (Sumiani, 2004).

BACA JUGA:  Budaya, Praktik Politik, dan Gerakan Advokasi

Yudhistira Sukatanya, dalam pengantarnya untuk buku Mengenal Nilai dan Simbol Pakarena (Nurlina Sjahrir, 2023), mengajukan pertanyaan kritis, apakah nilai dan simbol Pakarena masih relevan untuk penguatan jati diri orang Makassar, atau masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya?

Saya kutip saja apa yang ditulis Dr. Nurlina Sjahrir, yang bagai berdialog dalam diskursus akademiknya sebagai Maestro Tari Pakarena. Dalam Refocusing Pakarena, di tahun 2021—yang merupakan kolaborasi dirinya dengan Goenawan Monoharto—dosen Program Studi Seni Tari Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) menulis:

“Benarkah ketubuhan dalam Pakarena merefleksikan semangat dari dua karakter pembentuknya (laut-gunung), nampak kokoh mengakar ke tanah, membumi dan terus memberi kehidupan, sekaligus bergelora dengan berbagai macam halangan dan rintangan yang mesti dijinakkan dengan pengalaman.”

Pada paragraf lain, Nurlina Sjahrir menjawabnya sendiri:

“Bagi saya dalam tubuh Pakarena terjadi pertemuan dan sinergitas antara ruang domestik dan ruang publik.

Inilah yang merupakan bentuk interaksi yang kemudian menghasilkan suatu konsep keseimbangan nan harmonis dalam tubuh Pakarena, sehingga ia menjadi sangat humanis, artistik, eksotis tanpa harus cerewet bercerita dalam setiap geraknya.

BACA JUGA:  Keunikan Masjid Kayu Kapal Munzalan Bulukumba

Tubuh Pakarena memiliki pancaran sikap kesabaran, kesetiaan, kejujuran, ketangguhan, keluwesan, sekaligus kedamaian.”

Dari karya yang ditampilkannya, terasa bila Goenawan Monoharto hadir dalam foto-fotonya.

Identitasnya sebagai fotografer terasa otentitasnya. Ia menyingkap literasi visual tentang Pakarena, dengan memadukan visinya, emosinya, kemampuan teknis, dan jam terbang, bukan cuma menekan tombol klik.

Fotografi, kata Sir Donald McCullin, pewarta foto asal Britania Raya, adalah sebentuk perasaan, bukan hanya penglihatan.

Rasa itu berupa foto-foto hasil jepretan penari Pakarena dalam hitam putih atau monokromatik yang tanpa bingkai.

Sehingga ada keluasan pandangan ketika menikmati gambar-gambar puitis itu. Kalaupun foto-foto itu berwarna, ia terasa bagai notasi nada yang ritmis, dan … dramatis.

Foto-foto dengan sepilihan lokasi pemotretan yang tak kalah ikonik, antara lain: Benteng Somba Opu (Makassar), dan Rammang-Rammang (Maros).

Esensinya ia hendak menjemput limpahan cahaya sebagai berkah. Cahaya yang memantulkan cahaya dari penari Pakarena sebagai medium yang menegaskan karyanya.