CINTA TIDAK PERNAH TUNDUK PADA KALENDER, TANGGAL 4 SUDAH LEWAT MASIH ADA PERAYAAN

Dari pintu depan dan pintu tengah bermunculan ibu-ibu.

Ada yang membawa kue.
Ada yang dengan tepuk tangan khas perayaan ulang tahun.
Lalu terdengar nyanyian yang sangat akrab.
“Selamat ulang tahun…”

Dalam hitungan detik, ruang tamu yang tadinya sunyi berubah menjadi penuh tawa.

Di hadapan saya berdiri sebuah kue bertuliskan:
“Selamat Ulang Tahun Pak Guru.”
Meja yang tadi kosong, mendadak penuh oleh aneka kue dan hidangan.
Saya hanya bisa terdiam.
Barulah saya mengerti.

Ternyata sejak tadi Mama Febi sibuk di dapur menyiapkan semuanya. Ibu-ibu yang lain rupanya sudah berkumpul di rumah lain untuk menunggu saya datang.

Semua sudah direncanakan.
Semua disusun begitu rapi.
Dan saya sama sekali tidak tahu.
Di dalam hati saya tersenyum sendiri.
“Wah… bukankah ulang tahun saya sudah lewat? Hari lahir saya tanggal 4 Agustus. Ini sudah tanggal 15.”

Lalu saya sadar…

Barangkali mereka tidak sedang mengejar tanggal.
Mereka sedang menunggu kepulangan saya.

Sudah lebih dari sebulan saya jarang muncul di Lorong Daeng Jakking dimana tempat ibu-ibu biasa kumpul karena berbagai kesibukan.

BACA JUGA:  Renungan Hari Ini: Wartawan sebagai Video Kehidupan

Mereka hanya ingin memastikan bahwa ketika saya kembali, mereka bisa mengatakan satu hal yang mungkin selama ini tidak pernah mereka ucapkan dengan kata-kata:

“Kami senang Bapak ada di tengah-tengah kami.”

Saya percaya, tidak semua keluarga lahir dari hubungan darah.

Ada keluarga yang lahir dari doa-doa yang dipanjatkan bersama.

Ada keluarga yang tumbuh dari kebiasaan saling menyapa.

Ada keluarga yang terbentuk karena sering duduk melingkar, belajar mengaji, saling menguatkan, dan saling menjaga tanpa pernah diminta.

Mungkin itulah yang Allah sedang ajarkan kepada saya.
Bahwa persaudaraan sejati bukanlah tentang siapa yang memiliki nama keluarga yang sama.

Melainkan tentang siapa yang tetap membuka pintu ketika kita datang.
Siapa yang tetap menyediakan kursi meski kita lama menghilang.
Dan siapa yang diam-diam menyiapkan kejutan hanya agar kita tahu bahwa kehadiran kita berarti.

Saya sempat bertanya,
“Kenapa ki’ repot-repot begini?”
Jawaban mereka sederhana.
“Ini tidak seberapa ji, Pak.”
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat dada saya sesak oleh rasa syukur.

BACA JUGA:  KEGELAPAN MEMBERI INSPIRASI

Lalu Bu Ketua berkata pelan, kalimat yang hingga hari ini masih menggema di kepala saya.
“Pak Rahman ini menyatukan kita semua.”
Saya tidak tahu apakah saya pantas menerima kalimat sebesar itu.

Yang saya tahu, saya hanya berusaha hadir.

Karena sering kali yang dibutuhkan manusia bukanlah orang hebat.

Melainkan seseorang yang mau hadir, mau mendengar, mau membersamai, dan tidak lelah mengetuk pintu silaturahmi.