CINTA TIDAK PERNAH TUNDUK PADA KALENDER, TANGGAL 4 SUDAH LEWAT MASIH ADA PERAYAAN

Lalu saya sadar…

Barangkali mereka tidak sedang mengejar tanggal.
Mereka sedang menunggu kepulangan saya.

Sudah lebih dari sebulan saya jarang muncul di Lorong Daeng Jakking dimana tempat ibu-ibu biasa kumpul karena berbagai kesibukan.

Mereka hanya ingin memastikan bahwa ketika saya kembali, mereka bisa mengatakan satu hal yang mungkin selama ini tidak pernah mereka ucapkan dengan kata-kata:

“Kami senang Bapak ada di tengah-tengah kami.”

Saya percaya, tidak semua keluarga lahir dari hubungan darah.

Ada keluarga yang lahir dari doa-doa yang dipanjatkan bersama.

Ada keluarga yang tumbuh dari kebiasaan saling menyapa.

Ada keluarga yang terbentuk karena sering duduk melingkar, belajar mengaji, saling menguatkan, dan saling menjaga tanpa pernah diminta.

Mungkin itulah yang Allah sedang ajarkan kepada saya.
Bahwa persaudaraan sejati bukanlah tentang siapa yang memiliki nama keluarga yang sama.

Melainkan tentang siapa yang tetap membuka pintu ketika kita datang.
Siapa yang tetap menyediakan kursi meski kita lama menghilang.
Dan siapa yang diam-diam menyiapkan kejutan hanya agar kita tahu bahwa kehadiran kita berarti.

BACA JUGA:  Karier Gemilang Dr. Syarifuddin, dari Guru TK hingga Direktur Pascasarjana Universitas Patompo

Saya sempat bertanya,
“Kenapa ki’ repot-repot begini?”
Jawaban mereka sederhana.
“Ini tidak seberapa ji, Pak.”
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat dada saya sesak oleh rasa syukur.

Lalu Bu Ketua berkata pelan, kalimat yang hingga hari ini masih menggema di kepala saya.
“Pak Rahman ini menyatukan kita semua.”
Saya tidak tahu apakah saya pantas menerima kalimat sebesar itu.

Yang saya tahu, saya hanya berusaha hadir.

Karena sering kali yang dibutuhkan manusia bukanlah orang hebat.

Melainkan seseorang yang mau hadir, mau mendengar, mau membersamai, dan tidak lelah mengetuk pintu silaturahmi.

Mungkin ternyata…
Kehadiran yang terus diulang lebih kuat daripada pidato yang paling indah.
Malam itu saya pulang membawa lebih dari hanya sebatas kue ulang tahun.

Saya pulang membawa keyakinan bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sedang tumbuh diam-diam di hati orang-orang yang pernah kita perlakukan dengan tulus.

Dan saya semakin percaya…
Kadang Allah tidak menghadiahkan kita rumah yang megah.

BACA JUGA:  Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (3) Dari Staf ke Posisi Puncak

Tetapi Allah menghadiahkan kita orang-orang yang membuat setiap rumah terasa seperti rumah sendiri.
Ya Allah…
Terima kasih karena Engkau telah mempertemukan saya dengan keluarga seperti mereka.

Mereka bukan sebatas ibu-ibu pengajian yang selama ini sama-sama belajar mendekat kepada-Mu.

Mereka adalah jawaban dari doa-doa yang mungkin tidak pernah sempat saya ucapkan.

Mereka adalah pengingat bahwa dalam perjalanan hidup ini, harta yang paling berharga bukanlah apa yang kita simpan di tangan, melainkan siapa yang Allah titipkan di hati.

Dan malam itu saya mengerti satu hal.

Ulang tahun bukan tentang bertambahnya usia.
Ulang tahun adalah tentang bertambahnya alasan untuk bersyukur, karena ternyata masih ada begitu banyak hati yang dengan tulus menyebut kita sebagai bagian dari keluarganya
PT, 16/8/26