DI HADAPAN FIRMAN ALLAH, TIDAK ADA KURSI PIMPINAN

_By : RR Bang Maman_

*Ada satu hal yang sering membuat kita keliru menilai seseorang.*

Gowa, NusantaraInsight — Kita terlalu sering mengenali orang dari jabatannya, sampai lupa melihat bagaimana ia bersikap ketika tidak ada yang sedang melihat.

br

Barangkali karena itulah saya terdiam beberapa detik ketika mata saya menangkap sosok itu.

Di Masjid Nurul Ilmi BBPP Batangkaluku, usai salat Magrib, Sabtu malam (01/8/2026), puluhan peserta Mukhayyam Al-Qur’an Wilayah yang diselenggarakan IKADI Sulawesi Selatan sedang tenggelam dalam mushaf masing-masing. Tidak ada suara selain lantunan ayat yang dibaca perlahan. Ada yang sedang murajaah hafalan. Ada yang mengejar target tilawah. Ada pula yang menundukkan kepala, mengulang satu ayat berkali-kali agar benar-benar menetap di dada.

Di antara mereka…

Saya melihat wajah yang rasanya tidak asing wajahnya biasa terpampang di video tron gedung DPRD Kota Makassat sebelum dibakar oleh kemarahan rakyat yang sedang marah saat itu.

Bukankah itu Wakil Ketua DPRD Kota Makassar?

Saya mengucek mata. Bukan karena mengantuk, tetapi karena ingin memastikan penglihatan saya tidak sedang keliru.

Benar.

Itu *Anwar Faruq.*

Saya kebetulan menjadi salah satu panitia pada kegiatan tersebut. Selama dua hari berada di lingkungan BBPP Batangkaluku, saya ikut merasakan sendiri suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seolah-olah kamar-kamar yang disiapkan panitia hanya berubah fungsi menjadi tempat transit. Sebatas mandi, berganti pakaian, lalu kembali keluar.

Selebihnya…

*Masjid dan aula menjadi rumah yang sebenarnya.*

Di situlah para peserta menghabiskan waktu. Dari satu sesi ke sesi berikutnya. Dari tilawah ke tadabbur. Dari hafalan ke tausiyah. Dari salat berjamaah menuju diskusi tentang bagaimana Al-Qur’an tidak hanya dihafal, tetapi juga dihidupkan dalam keseharian.

Karena penasaran, saya menghampiri panitia bagian acara.

“Ust, itu *Pak Anwar Faruq* hanya singgah salat atau memang hadir?”
Panitia tersenyum.

“Beliau peserta, Bang.”

Saya spontan terdiam.
Peserta?

Entah mengapa jawaban sederhana itu justru memunculkan banyak pertanyaan di kepala saya.

Bukankah beliau Wakil Ketua DPRD Kota Makassar?

Jabatan itu bukan jabatan kecil. Di baliknya ada rapat yang nyaris tak pernah habis, agenda pemerintahan, tamu yang datang silih berganti, undangan seremonial, keputusan-keputusan penting, hingga kesibukan yang sering dijadikan alasan oleh banyak orang untuk tidak sempat menghadiri majelis ilmu.

Apalagi seorang wakil ketua.

Biasanya yang terbayang adalah iring-iringan mobil dinas, ajudan yang selalu berada beberapa langkah di belakang, telepon yang tak pernah berhenti berdering, pakaian yang membedakannya dari orang lain, atau setidaknya perlakuan khusus karena jabatan yang disandangnya.

brbr
BACA JUGA:  Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (2) Tiga ‘Jimat’ yang Buat ‘Survive’
brbr
br