Ada yang hanya memejamkan mata sambil melafalkan ayat yang telah melekat dalam ingatan.
Dan di antara mereka…
Wakil Ketua DPRD Kota Makassar itu hanyalah satu dari sekian banyak peserta.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Saat itulah muncul satu pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala saya.
Mengapa beliau mau ikut kegiatan seperti ini?
Bukankah lebihmudah mengirim sambutan tertulis?
Lebih praktis datang sebentar untuk membuka acara lalu pulang?
Lebih sederhana jika cukup mengutus staf atau memberi dukungan dari jauh?
Mengapa justru memilih duduk berhari-hari bersama peserta lain, mengikuti jadwal yang sama, menyelesaikan target tilawah yang sama, menerima tugas hafalan yang sama, makan bersama, salat bersama, dan belajar bersama?
Lama saya memikirkan pertanyaan itu.
Hingga perlahan saya menemukan jawabannya.
Mungkin…
Karena di hadapan Al-Qur’an, semua jabatan memang kehilangan kebesarannya.
Di hadapan firman Allah, tidak ada kursi pimpinan.
Tidak ada ruang VIP.
Tidak ada protokoler.
Yang ada hanyalah hamba-hamba yang sama-sama sedang belajar menjadi lebih baik.
Di masjid itu saya seperti melihat satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan dalam ruang sidang ataupun ruang politik.
Bahwa seseorang boleh memiliki jabatan setinggi apa pun, tetapi ia tetap membutuhkan Al-Qur’an untuk menjaga arah hidupnya.
Sebab jabatan hanya mengangkat seseorang di mata manusia.
Sedangkan Al-Qur’anlah yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah.
Malam itu saya tidak sedang mengagumi seorang wakil ketua DPRD.
Saya sedang menyaksikan seorang hamba yang memilih duduk bersama Al-Qur’an.
Dan barangkali…
Di situlah letak kemuliaan yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya di hadapan Allah bukanlah, “Pernah menjadi wakil ketua apa?”
Melainkan,
*”Seberapa dekat engkau dengan Kitab-Ku ketika dunia begitu sibuk memanggil namamu?”*
_PT, 3/8/2026_












