Bukan Sekadar Plang: Kekeliruan Di Balik Nama Jalan Gunung Tinggi Mae

Oleh: Nasrul, Penulis buku PLANG, Cerita di Balik Nama Jalan di Makassar

Makassar, NusantaraInsight — Pengelompokan nama jalan ke dalam kelompok kecil atau berbasis klaster seharusnya mempermudah navigasi. Namun ketika suatu kebijakan dirumuskan tanpa penelitian sejarah yang memadai, hal itu justru akan menghapus identitas lokal. Contoh yang ada dapat diamati dari penamaan Jalan Gunung Tinggi Mae yang terletak di Kecamatan Ujungpandang, Kota Makassar. Jalan ini termasuk dalam kelompok/kluster nama gunung bersama “kerabatnya” yang lain seperti Gunung Merapi, Gunung Lokon, dan seterusnya.

Letak gunung yang ada pada nama jalan di kota ini sebenarnya bisa ditelusuri. Gunung Bawakaraeng, yang namanya diambil untuk Jalan Gunung Bawakaraeng, adalah sebuah gunung berapi di Kabupaten Gowa dan Sinjai, Sulawesi Selatan.

Gunung Latimojong, yang menjadi inspirasi nama Jalan Gunung Latimojong, adalah nama pegunungan dan gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, juga dikenal sebagai Rantemario.

Gunung Lompobattang, yang namanya juga diabadikan sebagai Jalan Gunung Lompobattang, adalah gunung tertinggi kedua di Sulawesi Selatan dan terletak di Kabupaten Bantaeng dan Gowa.

BACA JUGA:  Refleksi Akhir Tahun 2024: Kolaborasi Hebat untuk Indonesia dan Dunia

Gunung Merapi, yang memberi nama pada Jalan Gunung Merapi, adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Gunung Bulusaraung, yang sebelumnya menjadi nama Jalan Gunung Bulusaraung sebelum berganti nama menjadi Jalan Jenderal M Yusuf, adalah nama gunung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Lalu di mana letak Gunung Tinggi Mae? Sebenarnya, tidak ada nama gunung seperti itu dalam geografi. Ini karena Tinggi Mae bukanlah nama sebuah gunung. Nama Tinggi Mae sebenarnya berasal dari gelar kebangsawanan seorang tokoh besar dari Sulawesi Selatan, yaitu Karaeng Tinggi Mae, atau yang juga dikenal sebagai La Parenrengi Daeng Pabeso. Beliau adalah penguasa Kerajaan Suppa dan juga ayah kandung dari pahlawan nasional Andi Makkasau. Jadi, nama Tinggi Mae lebih merujuk pada seorang tokoh historis daripada sebuah lokasi geografis.

Nama yang sama sebenarnya ada di Gowa. Bedanya plang jalan yang berada plang jalan yang berada di Kecamatan Somba Opu itu tertulis Jl Tinggi Mae, tanpa tambahan kata Gunung pada plangnya.

BACA JUGA:  Berbincang dengan Kades Kalebentang: SDM RENDAH TAPI SWADAYA MASYARAKAT TINGGI

 

Dari perspektif linguistik, kesalahan ini berawal dari kecenderungan penafsiran teks untuk memaksakan kesatuan area. Kelurahan Pisang Utara sudah lama dikenal sebagai lokasi “Klaster Gunung”. Karena frasa “Tinggi Mae” dalam bahasa Makassar—yang berasal dari kata (tinggi berarti tinggi, dan mae berarti sangat/sangat)—secara harfiah mengandung arti “Sangat Tinggi”, birokrasi sebelumnya dengan sembrono menganggapnya sebagai suatu ketinggian tanah. Akibatnya, gelar kehormatan Karaeng berubah menjadi istilah geografis “Gunung”. Tindakan ini menjadikan status sebuah antroponim (nama tokoh manusia) hanya sebagai tanda bukit atau dataran tinggi fiktif yang tidak pernah terdaftar dalam peta geologi Sulawesi Selatan.