Bukan Sekadar Plang: Kekeliruan Di Balik Nama Jalan Gunung Tinggi Mae

 

Kita bisa melihat contoh kecerobohan administratif di klaster tokoh, tapi juga di klaster geografis lainnya di Makassar. Misalnya, kita masih ingat ketika nama Jalan Sungai Kelara tertulis salah menjadi Jalan Sungai Klara karena hilangnya huruf “e”. Kesalahan ini dibiarkan terlalu lama dan membuat nama Sungai Kelara, yang terletak di Kabupaten Jeneponto, menjadi kurang jelas. Masyarakat mulai mengasosiasikan nama Sungai Kelara dengan nama baptis Barat, yaitu Klara, yang sebenarnya salah. Kekeliruan ini bahkan berdampak pada penamaan Wisma Klara di jalan tersebut, yang menggunakan nama yang salah kaprah.

 

Namun, jika kasus Sungai Kelara hanya masalah salah ketik, maka kasus Jalan Gunung Tinggi Mae jauh lebih penting. Ini karena kasus ini dapat membuat generasi muda lupa sejarah. Ketika gelar kepahlawanan diubah menjadi nama tempat, masyarakat tidak bisa lagi mengenal sejarah dan perjuangan leluhurnya melawan kolonialisme. Oleh karena itu, ulasan ini tidak hanya membahas masalah kata-kata, tapi juga merupakan permintaan kepada Pemerintah Kota Makassar. Perlu ada upaya untuk memperbaiki nama-nama tempat di kota, salah satunya dengan mengembalikan nama Jalan Karaeng Tinggi Mae, demi menjaga kehormatan tanah Sulawesi.

BACA JUGA:  Tradisi Parappo, Navigasi Cultural Pelaut Barrang Lompo