Saya tidak perlu membagi tugas.
Mereka sudah memahami sendiri apa yang harus dilakukan.
Dan justru di situlah saya melihat keindahan sebuah persaudaraan.
Sebab persaudaraan yang matang tidak membutuhkan banyak instruksi.
Ia bekerja dengan kesadaran.
Ketika satu orang memiliki kebahagiaan, yang lain merasa ikut memilikinya.
Ketika satu orang memiliki kebutuhan, yang lain merasa ikut bertanggung jawab.
Ale rasa, beta rasa.
Apa yang engkau rasa, saya rasa.
Apa yang membuatmu bahagia, membuat saya bahagia.
Begitu pula pada hari wisuda.
Yang laki-laki ikut bersama saya ke hotel mendampingi Fikram.
Sementara adik-adik perempuan, bersama seorang adik laki-laki, tetap di rumah memasak dan menyiapkan syukuran kecil-kecilan versi mereka.
Tidak ada yang merasa lebih penting.
Tidak ada yang menghitung siapa paling banyak bekerja.
Tidak ada yang bertanya, “Apa bagian saya?”
Sebab dalam keluarga yang dibangun oleh cinta, pertanyaan itu perlahan hilang.
Yang muncul justru pertanyaan lain:
“Apa yang bisa saya bantu?”
Mungkin inilah makna hilidan yang sesungguhnya.
Persaudaraan bukan tentang siapa yang paling banyak memberi.
Persaudaraan adalah ketika memberi tidak lagi terasa sebagai pengorbanan.
Ketika pekerjaan berat menjadi ringan karena dikerjakan bersama.
Ketika keberhasilan seorang saudara dirayakan sebagai keberhasilan bersama.
Usai dari hotel, kami langsung pulang.
Adik-adik perempuan sudah menunggu.
Saya melihat wajah-wajah mereka.
Ada lelah.
Ada lega.
Ada bahagia.
Dan saya kembali berpikir bahwa rumah bukan hanya tentang dinding, pintu, dan atap.
Rumah adalah tempat seseorang menunggu kepulangan kita.
Rumah adalah tempat kita tidak perlu menjelaskan mengapa kita lelah.
Rumah adalah tempat keberhasilan seorang saudara menjadi kebahagiaan bersama.
Dan mungkin, rumah yang paling indah adalah rumah yang penghuninya tidak hanya tinggal bersama, tetapi tumbuh bersama.
Terima kasih, adik-adikku.
Terima kasih telah mengajarkan saya bahwa persaudaraan tidak membutuhkan banyak teori.
Ia cukup dibuktikan dengan hadir.
Dengan membantu.
Dengan memasak.
Dengan pergi ke pasar.
Dengan mendekorasi rumah.
Dengan mendampingi saudara ke panggung wisuda.
Dengan menunggu kepulangannya.
Dan dengan mengirimkan satu pesan sederhana:
“Terima kasih banyak Abang.”
Barangkali kelak kita akan lupa banyak hal dari perjalanan hidup ini.
Kita mungkin lupa tanggal.
Kita mungkin lupa siapa yang duduk di sebelah kita.
Tetapi kita tidak akan mudah lupa pada orang yang hadir ketika kita membutuhkan seseorang.
Karena, yang tinggal dari perjalanan hidup kita bukan berapa banyak yang kita punya.












