Di panggung itu, saya melihat bukan hanya seorang anak muda yang sedang menerima ijazah.
Saya melihat perjalanan.
Saya melihat perjuangan.
Saya melihat hari-hari yang mungkin tidak selalu mudah.
Dan saya membayangkan ada seseorang yang seharusnya juga berada di sana untuk menyaksikan momen itu.
Umi-nya Fikram.
Tiba-tiba HP saya berkedip.
Ada pesan baru.
Saya membukanya.
Ternyata pesan itu dari Fikram.
Padahal ia sedang berada dalam prosesi wisuda.
Pesannya singkat, tetapi bagi saya terasa begitu panjang maknanya.
Fikram Lahmadi:
“Terimakasih banyak Abang..🙏🏾
Sudah bersedia dan meluangkan waktu untuk hadir menjadi orang tua wali, dan sebagai abg sekaligus orang tua, bagi katong adik-adik mu di kota Makassar..
Sekali terimakasih banyak Laa abg jou raa🙏🏾🙏🏾”
Saya membaca pesan itu perlahan.
Entah mengapa, di tengah riuh seremoni wisuda, hati saya justru menjadi sunyi.
Kadang-kadang sebuah pesan pendek mampu menghentikan banyak suara di kepala kita.
Saya kemudian membalas:
“Insya Allah Umi-nya adik Fikram di alam sana senyum dan bahagia melihat adik Fikram wisuda hari ini.”(almarhumah umi-nya)
“Insya Allah abah-mu dikampung sana tersenyum dan bahagia melihat adik Fikram pakai toga hari ini”
“Insya Allah kakak-kakak mu dikampung sana bahagia dan bangga melihat adik Fikram pakai toga”
Sesederhana itu.
Tetapi di balik kata-kata itu ada doa yang panjang.
Sebab saya percaya, ada kebahagiaan orang tua yang tidak selalu harus hadir secara fisik untuk bisa kita rasakan.
Ada doa seorang ibu dan bapak yang mungkin tidak terdengar di dalam ruangan wisuda, tetapi justru mungkin menjadi salah satu alasan mengapa seorang anak mampu berdiri tegak hari itu.
Dan saya tiba-tiba merasa bahwa menjadi wali bukanlah sebatas tanda tangan pada sebuah administrasi.
Menjadi wali adalah kesediaan untuk hadir ketika seorang adik membutuhkan sosok yang bisa berdiri di sampingnya.
Bukan untuk menggantikan orang tua.
Tidak akan pernah.
Tetapi untuk menjadi bagian kecil dari perjalanan seorang anak menuju masa depannya.
Sehari sebelum wisuda, saya kembali teringat bagaimana rumah kami dipenuhi kesibukan.
Adik-adik perempuan sibuk mendekorasi rumah.
Dekornya sederhana.
Tidak mewah.
Tidak membutuhkan banyak biaya.
Tetapi semakin saya melihatnya, semakin saya menyadari bahwa yang sedang mereka bangun sesungguhnya bukan dekorasi.
Mereka sedang membangun ukhuwah (Hilidan).
Yang laki-laki sibuk merapikan rumah.
Ada yang pergi ke pasar.
Ada yang menyiapkan kebutuhan.
Semua bergerak tanpa komando.












