Hilidan: Ketika Persaudaraan Menjadi Rumah

Saya kemudian membalas:

“Insya Allah Umi-nya adik Fikram di alam sana senyum dan bahagia melihat adik Fikram wisuda hari ini.”(almarhumah umi-nya)

“Insya Allah abah-mu dikampung sana tersenyum dan bahagia melihat adik Fikram pakai toga hari ini”

“Insya Allah kakak-kakak mu dikampung sana bahagia dan bangga melihat adik Fikram pakai toga”

Sesederhana itu.

Tetapi di balik kata-kata itu ada doa yang panjang.

Sebab saya percaya, ada kebahagiaan orang tua yang tidak selalu harus hadir secara fisik untuk bisa kita rasakan.

Ada doa seorang ibu dan bapak yang mungkin tidak terdengar di dalam ruangan wisuda, tetapi justru mungkin menjadi salah satu alasan mengapa seorang anak mampu berdiri tegak hari itu.

Dan saya tiba-tiba merasa bahwa menjadi wali bukanlah sebatas tanda tangan pada sebuah administrasi.

Menjadi wali adalah kesediaan untuk hadir ketika seorang adik membutuhkan sosok yang bisa berdiri di sampingnya.

Bukan untuk menggantikan orang tua.

Tidak akan pernah.

Tetapi untuk menjadi bagian kecil dari perjalanan seorang anak menuju masa depannya.

BACA JUGA:  Hikmah Jumat : Pejabat Masuk Surga Karena Jabatannya

Sehari sebelum wisuda, saya kembali teringat bagaimana rumah kami dipenuhi kesibukan.

Adik-adik perempuan sibuk mendekorasi rumah.

Dekornya sederhana.

Tidak mewah.

Tidak membutuhkan banyak biaya.

Tetapi semakin saya melihatnya, semakin saya menyadari bahwa yang sedang mereka bangun sesungguhnya bukan dekorasi.

Mereka sedang membangun ukhuwah (Hilidan).

Yang laki-laki sibuk merapikan rumah.

Ada yang pergi ke pasar.

Ada yang menyiapkan kebutuhan.

Semua bergerak tanpa komando.

Saya tidak perlu membagi tugas.

Mereka sudah memahami sendiri apa yang harus dilakukan.

Dan justru di situlah saya melihat keindahan sebuah persaudaraan.

Sebab persaudaraan yang matang tidak membutuhkan banyak instruksi.

Ia bekerja dengan kesadaran.

Ketika satu orang memiliki kebahagiaan, yang lain merasa ikut memilikinya.

Ketika satu orang memiliki kebutuhan, yang lain merasa ikut bertanggung jawab.

Ale rasa, beta rasa.

Apa yang engkau rasa, saya rasa.

Apa yang membuatmu bahagia, membuat saya bahagia.

Begitu pula pada hari wisuda.

Yang laki-laki ikut bersama saya ke hotel mendampingi Fikram.

Sementara adik-adik perempuan, bersama seorang adik laki-laki, tetap di rumah memasak dan menyiapkan syukuran kecil-kecilan versi mereka.

BACA JUGA:  Waktu Nggak Bisa Diulang, Jadi Jangan Sering ‘Nanti Aja’

Tidak ada yang merasa lebih penting.

Tidak ada yang menghitung siapa paling banyak bekerja.

Tidak ada yang bertanya, “Apa bagian saya?”

Sebab dalam keluarga yang dibangun oleh cinta, pertanyaan itu perlahan hilang.

Yang muncul justru pertanyaan lain:

“Apa yang bisa saya bantu?”

Mungkin inilah makna hilidan yang sesungguhnya.

Persaudaraan bukan tentang siapa yang paling banyak memberi.

Persaudaraan adalah ketika memberi tidak lagi terasa sebagai pengorbanan.

Ketika pekerjaan berat menjadi ringan karena dikerjakan bersama.

Ketika keberhasilan seorang saudara dirayakan sebagai keberhasilan bersama.

Usai dari hotel, kami langsung pulang.

Adik-adik perempuan sudah menunggu.

Saya melihat wajah-wajah mereka.

Ada lelah.

Ada lega.

Ada bahagia.

Dan saya kembali berpikir bahwa rumah bukan hanya tentang dinding, pintu, dan atap.

Rumah adalah tempat seseorang menunggu kepulangan kita.

Rumah adalah tempat kita tidak perlu menjelaskan mengapa kita lelah.

Rumah adalah tempat keberhasilan seorang saudara menjadi kebahagiaan bersama.

Dan mungkin, rumah yang paling indah adalah rumah yang penghuninya tidak hanya tinggal bersama, tetapi tumbuh bersama.

BACA JUGA:  K-Apel dan Tongkat Ibu Andi Ernawati, S.Pd.,M.Pd.,Ph.D Kepala Sekolah SMA Negeri 21 Makassar

Terima kasih, adik-adikku.

Terima kasih telah mengajarkan saya bahwa persaudaraan tidak membutuhkan banyak teori.

Ia cukup dibuktikan dengan hadir.