Syahril Patakaki Merawat Makassar Lewat Sanja’ Mangkasara

Syahril Patakaki
Syahril Patakaki

Makassar, NusantaraInsight — Di tengah gempuran globalisasi, ada nama yang konsisten merawat bahasa dan rasa Makassar: Drs. Syahril Ramli Rani, atau lebih dikenal dengan nama panggung Syahril Patakaki.

Daeng Nassa begitu biasa orang menyapanya, telah membuat identitas sebagai Pasanja’ Mangkasara (sastrawan berakar pada tradisi sastra Makassar), ia tidak hanya menulis, tetapi juga menghidupkan ruang-ruang sastra, teater, dan sinema di Sulsel.

Namanya bukan sekedar numpang lewat akan tetapi telah mengakar pada benak orang-orang di Kota Makassar bahkan hingga ke perantauan sebagai seorang Pasanja’ Mangkasara.

Dari lidahnya yang fasih merawat bahasa bagai merawat ibu yang kini telah renta dan nyaris punah. Lewat Sanja’, ia menggambarkan keindahan kota yang menyapihnya, menitipkan pesan-pesan keramat dari leluhur yang luhur.

Identitas

Nama lengkap: Drs. Syahril Ramli Rani
Nama samaran: Syahril Patakaki
Nama panggilan: Daeng Nassa
Agama: Islam
Pekerjaan: Pasanja’ Mangkasara (sastrawan)
Alamat: Jl. Pelita Raya Blok A3c No. 20b, Makassar, Sulawesi Selatan.

Profil ini menempatkan Syahril sebagai figur yang memadukan identitas sebagai abdi negara dengan kepiawaian tradisi lisan dan tulis dalam bahasa Makassar, menjadikannya jembatan antara dunia komunitas seni, budaya, kearifan lokal dan publik luas.

BACA JUGA:  Saksikan Besok !!! Sinrilik Kappalak Tallumbatua Berlayar di SMKN 2 Gowa

Karier sebagai Pasanja’ Mangkasara: Menulis dalam Bahasa Ibu

Fokus utama Syahril adalah Sanja’ Mangkasara (sastra Makassar), sebuah ranah yang ia tekuni lewat penulisan, pembacaan, dan pengajaran tidak resmi di berbagai forum.

Dalam sejumlah acara sastra, ia tampil membacakan Sanja’/Sanjak Mangkasara bentuk puisi atau prosa liris berbahasa Makassar yang sarat simbol, metafora, dan nilai kearifan lokal.

Salah satu momen yang menonjol adalah ketika ia menutup FGD Sastra Kepulauan dengan pembacaan Sanja’ “Julu Pasombala”, menegaskan posisi Sanja’ bukan sekadar hiasan acara, melainkan penanda budaya yang memberi kerangka makna bagi diskusi-diskusi kontemporer di ruang-ruang sastra yang tak berdetak.

Di forum lain, seperti diskusi antologi puisi Jaramming (FOSAIT, 2022), ia hadir sebagai pembaca Sanjak Mangkasara “Akcaramming”, memperkuat jejaring sastra Indonesia Timur dengan suara khas Makassar yang memanggil Sukma yang telah lama merantau.

Kekuatan Syahril sebagai Pasanja’ terletak pada kemampuannya merumuskan pengalaman lokal, laut, perahu, keberanian, harga diri, dan relasi sosial ke dalam diksi yang padat namun tetap membumi.

BACA JUGA:  Obituari Hasyim Ado: Pernah Dibantingi Pistol

Dengan begitu, ia “merawat Makassar” bukan dengan nostalgia semata, melainkan dengan mengaktifkan bahasa ibu dalam percakapan kekinian.

Jejak Kelembagaan: Dari DKM hingga Komunitas Sastra

Di balik karya individual, Syahril aktif membangun ekosistem seni budaya Makassar lewat berbagai organisasi:
Pengurus Dewan Kesenian Makassar (DKM) — pada periode 2026–2031, namanya tercatat dalam struktur kepengurusan DKM, menandakan peran strategisnya dalam kebijakan dan program kesenian kota.