Syahril Patakaki Merawat Makassar Lewat Sanja’ Mangkasara

Syahril Patakaki
Syahril Patakaki

Pengurus LAPAKKSS Sulsel: yang merupakan wadah untuk menghidupkan diskusi, bedah buku, dan gerakan literasi di Sulsel, utamanya budaya lokal Makassar.

Pengurus DPP Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI): menunjukkan keterlibatan pada level nasional dengan perspektif kepenulisan bernuansa keislaman.

Pengurus Sinerji Teater Makassar & Pengurus Studi Teater Tambora Makassar: yaitu mengikat sastra dengan pertunjukan, memperkuat dimensi performatif teks.

Pembina Sanggar Seni “Bijatau Tidung” Makassar: dengan membina ruang latihan dan kreasi bagi seniman muda.

Anggota Forum Sastra Indonesia Timur (FOSAIT): sebagai upaya kreatif memperluas jaringan sastra lintas wilayah Indonesia Timur.

Anggota Komunitas Puisi Indonesia (KOPI) dan Anggota Sanggar Merah Putih Makassar: menegaskan keterlibatan lintas komunitas.

Melalui posisi-posisi ini, Syahril tidak hanya menulis, tetapi juga menciptakan panggung bagi suara-suara lain untuk terdengar.

Kontribusi pada Antologi dan Dunia Film/Sinema

Selain Sanja’, Syahril juga ikut dalam sejumlah antologi puisi Indonesia dan cerpen, menandakan bahwa ia bergerak di dua arus: menjaga akar Makassar sekaligus berdialog dengan khazanah sastra nasional.

BACA JUGA:  Lahan Contoh Penghijauan di Kec. Parado Bima (2): Produksi Meroket, Harga Merosot

Dalam buku Proses Kreatif Penulis Makassar 2, namanya muncul di antara akademisi, wartawan, dan sastrawan yang membagikan pengalaman kepenulisan, menunjukkan posisinya sebagai narasumber proses kreatif bagi generasi baru.

Di ranah perfilman, ia tercatat aktif di dunia perfilman dan sinema elektronik, sebuah bidang yang sering ia silangkan dengan teater dan sastra, misalnya lewat pembacaan puisi dalam acara bertema sinema atau kolaborasi naskah.

Ini memperlihatkan orientasinya pada sastra yang hidup di ruang publik, bukan hanya di halaman buku.

Gaya dan Posisi Estetik

Sebagai Pasanja’ Mangkasara, Syahril Patakaki mewakili generasi yang menghidupkan kembali bahasa Makassar dalam bentuk-bentuk modern (puisi, prosa liris, naskah baca).

Menautkan tradisi lisan (pantun, sanjak, mantra) dengan isu-isu kekinian (literasi, identitas, kota).

Bekerja lintas medium: sastra, teater, sinema, dan forum diskusi, sehingga teksnya bisa “berjalan” di panggung, layar, dan ruang publik.

Dalam konteks Makassar yang terus berubah, kehadiran Syahril adalah pengingat bahwa merawat kota juga berarti merawat bahasanya karena di situlah tersimpan cara warga memahami diri, sejarah, dan masa depan.

BACA JUGA:  SEPUTAR BERTANYA DAN PERTANYAAN

Kontak : +62 852-5568-1333