Beliau datang ke lorong buntu tempat saya tinggal. Duduk di rumah sederhana saya. Menanyakan mahar almarhumah istri saya. Mencabut pedang yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari sarungnya. Kemudian mengajak kami makan bersama.
Tidak ada panggung. Tidak ada protokoler. Tidak ada jarak yang perlu dipertahankan karena jabatan.
Hanya manusia yang bertemu dengan manusia lainnya.
Dan bukankah justru di situlah nilai sebuah pertemuan menemukan tempatnya?
Saya masih belum tahu apa yang sebenarnya membuat Ust Malla ingin melihat pedang itu hari itu.
Mungkin ada cerita yang beliau ingat. Mungkin ada sesuatu yang ingin beliau pastikan. Mungkin pula ada alasan lain yang belum saya ketahui.
Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan.
Biarlah pertanyaan itu tetap menjadi bagian dari cerita yang belum selesai.
Namun, satu hal yang saya pahami yakni hari itu, sebuah pedang mengajarkan saya kembali tentang arti menyimpan kenangan.
Bahwa tidak semua yang kita simpan adalah benda. Sebagiannya adalah kesetiaan. Sebagiannya adalah doa. Sebagiannya lagi adalah cinta yang telah berubah bentuk karena waktu dan kematian.
Saya hanyalah seorang guru mengaji lorong yang tinggal di jalan buntu. Tetapi hari itu, saya merasa menerima sesuatu yang begitu berharga dari sebuah kunjungan sederhana yakni pengingat bahwa kehidupan tidak pernah sesempit lorong tempat kita tinggal.
Kadang-kadang, orang datang dari tempat yang jauh untuk mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat dekat dengan hati.
Dan mungkin, inilah salah satu kemewahan hidup yang tidak bisa dibeli dengan jabatan atau uang yaitu ketika seseorang bersedia datang, duduk bersama kita, dan menghargai cerita yang kita simpan.
Pedang itu kini kembali ke sarungnya.
Tetapi setelah hari itu, rasanya ia tidak lagi sebatas benda yang tersimpan di sudut kenangan.
Ia telah kembali bercerita.
Tentang seorang perempuan yang pernah menjadikannya mahar. Tentang seorang laki-laki yang masih menyimpan sebagian jejak kehidupan mereka. Tentang seorang tamu yang datang tanpa diduga, lalu menyentuh sesuatu yang lama terdiam.
Dan tentang waktu, yang tidak pernah bisa kita putar kembali, tetapi selalu memberi kesempatan kepada kita untuk memaknai apa yang masih tersisa.
Sebab, pada akhirnya, yang membuat sebuah benda tetap berharga bukanlah karena ia masih utuh, melainkan karena ada cinta yang pernah dititipkan di dalamnya. Dan yang membuat sebuah kunjungan begitu berarti bukanlah siapa yang datang, melainkan bagaimana kehadirannya membuat kita kembali merasa bahwa hidup, dengan segala kehilangan dan kenangannya, masih menyimpan alasan untuk disyukuri.
_PT, 18/10/2026_












